Laksmi Pamuntjak Kesadaran Kuliner Tinggi

Retno Hemawati dan Sri Utami
10/8/2018 01:00
Laksmi Pamuntjak Kesadaran Kuliner Tinggi
(MI/SUSANTO )

ARUNA dan Lidahnya, karya sastra yang bertutur konspirasi dan kekayaan kuliner diramu kembali menjadi karya visual berupa film layar lebar. Dengan tetap mengusung kekayaan kuliner Tanah Air, film itu bakal menjadi karya yang cukup mendobrak pencinta film.

Film Aruna dan Lidahnya yang diangkat dari novel karya Laksmi Pamuntjak, 46, dengan judul yang sama ini tidak hanya menampilkan makanan yang menjadi cerita utama, tapi juga terdapat kisah nyata konspirasi kekuasaan terkait dengan vaksin wabah flu burung.

"Orang kita itu kesadaran kulinernya tinggi, suka makan. Tidak hanya orang yang makan lahap, tapi juga memikirkannya. Saya ingin membuat sebuah novel yang tidak hanya menampilkan elemen itu, tapi juga mencakup realitas politik yang lebih luas. Itu makanya saya memasukkan isu flu burung ke dalam novel ini karena ada konspirasi," jelas Laksmi, Kamis (9/8), di Jakarta Pusat.

Laksmi menerangkan, dia tidak ingin membuat cerita nyata yang terlalu dibuat romantis dalam karyanya. Kisah konspirasi itu pun cukup menjadi bumbu yang sebenarnya melekat pada tokoh utama Aruna sebagai ahli wabah.

"Ini tema yang bisa mewakili bahwa ada sisi gelap budaya korupsi di Indonesia. Di satu sisi ada keberagaman kuliner sebagai kekayaan budaya. Saya tidak mau menampilkan dari satu sisi saja dan juga menggambarkan sesuatu yang diromantisasi. Saya bungkus dalam satirical yang ringan, tapi ada bobotnya dan itu bukan kasus yang tidak terjadi," ungkapnya.

Menghidu aroma roti
Menikmati hidangan bagi Laksmi akan membawanya pada ingatan. "Saat menikmati hidangan saya sering kali teringat, kapan menikmati hidangan ini pertama kali dan kemudian akan mengingat dengan siapa makan, atau pengalaman di restoran duduk sendiri, mood-nya mengingatkan pada seseorang," ceritanya.

Tidak berbeda saat dirinya bercerita tentang aroma. Baginya, aroma roti yang sedang dipanggang membawanya pada sebuah ingatan. "Aroma roti yang baru mengembang, saat kita berada di atas dapur atau restoran sehingga bisa menghidu baunya. Saya kemudian merasa ada perasaan dan ingatan yang membawa saya tentang kedekatan dengan ibu, keluarga, anak, dan bahkan dengan kestabilan hidup."

Pada hari ini, novel terbaru Laksmi berjudul The Fall Baby diluncurkan bertepatan dengan penyelenggaraan Berlin International Literary Festival di Jerman. Novel yang dalam bahasa Indonesia akan diterbitkan dengan judul Srikandi itu merupakan sekuel dari novel pertama Laksmi berjudul Amba yang memperoleh penghargaan sastra Jerman, yakni Liberaturpreis pada 2016. "Ini ditulis dari perspektif Srikandi, anak haram dari tokoh Amba dan Bhisma yaitu dua protagonis dalam novel pertama saya," kata Laksmi.
Novel yang ditulis selama 1,5 tahun ini menceritakan kisah dua perempuan, yaitu Srikandi (Siri), seorang seniman visual yang mendunia dan Dara yang seorang aktivis politik. (Ant/H-5)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya