Wilda Situngkir Jadi Putri dari Museum

Retno Hemawati
08/8/2018 06:30
Wilda Situngkir Jadi Putri dari Museum
(MI/PERMANA)

PUTRI Indonesia Pariwisata 2018, Wilda Octaviana Situngkir, 22, bercerita dirinya sangat menyukai berkunjung ke museum. Bahkan, museumlah yang mengantarkannya hingga di posisi seperti sekarang dari yang awalnya hanyalah mahasiswa biasa di Universitas Panca Bhakti Pontianak. "Mahasiswa yang enggak banyak nongkrong, kuliah kemudian pulang, paling ke Museum Kalimantan Barat (Kalbar). Di museum ini saya kemudian secara tidak sengaja dipertemukan dengan orang yang menemukan dan mendorong saya untuk ikut beauty pageant," kata pekan lalu, saat berkunjung ke Media Indonesia.

Pada 2017 itulah dia mulai semakin rajin mengikuti beberapa ajang termasuk pemilihan putri pariwisata di Kabupaten Kubu Raya. "Memang dari dulu passion aku di Pariwisata itu sudah sangat kelihatan. Senang sekali menang dan kemudian direkomendasikan di tingkat provinsi, kemudian mewakili Kalbar mewakili di sebuah ajang lain. Setahun kemudian skripsi, kuliah, dan Putri Indonesia."

Wildan yang didukung Yayasan Putri Indonesia dan Mustika Ratu itu juga merasakan, museum kebanyakan terlihat kurang mengundang apalagi karena alasan sepi dan sunyi, bahkan membuat bulu kuduk merinding. "Ya saya juga kadang merasakan itu tetapi museum itu menyimpan banyak cerita sejarah," tuturnya berseri-seri.

Saat berkunjung ke museum, tidak hanya di Kalbar, dia membagikan gambar melakui akun media sosial, salah satunya melalui Instagram. Dalam salah satu postingan-nya di Museum Kalimantan Barat, dia berpose dan menambahkan pertanyaan demikian, "Setuju enggak kalau di museum  di setiap daerah dijadikan satu tempat yang wajib dikunjungi dan diunggah di Instagram?"

Tidak dinyana, unggahan itu mendapatkan banyak ragam komentar yang positif. Intinya mendukung dan setuju. "Postingan itu disukai lebih dari 10 ribu pengguna Intagram dan ratusan komentar. Ini postingan yang sangat istimewa," katanya.
Dia juga sangat mengapresiasi pemerintah daerah yang masih mempertahankan mendanai museum. "Di museum yang biasa saya kunjungi tiketnya hanya Rp500, bagaimana bisa membiayai operasional museum? Bersyukur ada pemerintah yang mau mempertahankan sejarah dan mendanainya."

Jadi korban perundungan
Wilda juga bercerita dirinya sempat menjadi korban perundungan karena tinggi tubuhnya yang mencapai 173 sentimeter dan juga kulitnya yang hitam dan dinilai dekil. "Sejak saya SMP, SMA, bahkan kuliah, saya sering menjadi bahan perundungan. Rata-rata mereka tingginya sebahu saya, alhasil kalau jalan bareng mereka, saya disuruh di belakang atau malah di depan sekalian karena minder."

Dia melanjutkan cerita, pada saat sekolah di SMK jurusan teknik gambar bangunan dia sering disapa dengan sebutan tiang listrik. Tapi seriring berjalannya waktu, Wilda memahami apa yang dipikirnya selama ini merupakan kekurangan justru menjadi kelebihannya. "Dan akhirnya teman-teman aku mengakui badan tinggi itu banyak manfaatnya, padahal dulu mereka merundung saya," kata dia. Saat ini dia bersiap untuk menghadapi ajang Miss Supranational. Selain olahraga dan memperhatikan pola makan, dia juga merawat tubuh di Taman Sari Royal Heritage Spa.  

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya