Ahmad Tohari Cara Berbakti untuk Bangsa

Liliek Dharmawan
04/7/2018 00:45
Ahmad Tohari Cara Berbakti untuk Bangsa
(MI/liliek)

SASTRAWAN Indonesia, Ahmad Tohari, telah memasuki usia 70 tahun. Saat ini dia sangat bersyukur masih bisa berkarya dan dalam kondisi sehat. Dia juga masih kritis menanggapi situasi di sekelilingnya. Fenomena sekitar dan sikap kritis itu digunakan untuk bahan tulisan serta menyampaikan kritik untuk bangsa Indonesia. Bagi pengarang novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk tersebut, kritik kalau dilakukan secara ikhlas merupakan cara berbakti kepada bangsa.

Ia mengaku saat ini lebih fokus pada cerita pendek (cerpen) ketimbang novel. Namun, tema-tema yang dibawanya masih tetap sama, yakni kritik. "Berbagai persoalan masyarakat sehari-hari itu merupakan 'bensin' dalam menulis karya sastra. Saya masih akan terus berkarya dengan tetap bertemakan kritik sosial. Ini cara saya berbakti kepada bangsa ini. Berbakti tidak hanya memuji, tetapi juga mengingatkan dan mengkritik. Asalkan dilakukan dengan ikhlas," ungkap Tohari saat ditemui di tempat wisata Karang Panginyongan, Desa Karangtengah, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Sabtu (30/6).

Kegelisahan Tohari itulah yang menelurkan puluhan cerpen dan belasan novel. "Kegelisahan itu muncul ketika jiwa saya tidak menerima terhadap suatu kondisi terutama kemanusiaan. Semua saya coba ungkap dalam bahasa sederhana, tetapi jelas dan kuat. Teman saya di Banyumas bilang, saya telah memberi bacaan kepada Biyung Banyumas. Ada lagi yang bilang, saya telah memberi bacaan kepada Ibu Indonesia. Malah ada yang membesar-besarkan dengan mengatakan saya telah memberi bacaan kepada dunia. Tentu, ini membuat saya nyaman karena merasa ada, hadir, dan sedikit punya peran dalam kehidupan," ungkapnya.

Gagap saat ditanya
Meski masih berkarya, Tohari sempat gagap ketika ditanya Presiden Jokowi pada 18 April 2018. Itu merupakan pertemuan antara presiden dan seniman dan budayawan. "Saat saya bersalaman, Pak Jokowi bertanya, mana karya saya yang baru. Saya agak kaget, jadi hanya bisa menjawab dengan senyuman," kata Tohari, pengarang karya novel Ronggeng Dukuh Paruk yang diangkat ke layar lebar dengan judul Sang Penari itu.

Walaupun belum ada karya sastra yang akan difilmkan lagi, Tohari tetap berkeinginan menulis.

"Jadi, apa yang membuat saya sulit melahirkan karya baru? Faktor 'U'? Itu yang paling mungkin. Tetapi tahun ini ada kumpulan cerpen, salah satunya karya saya yang dibukukan. Artinya saya belum berakhir," ujar laki-laki yang memilih tinggal di sebuah kampung di Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, tersebut.

Tohari mengaku terus berusaha untuk berkarya melalui karya sastra. Selain itu, dirinya memberikan motivasi kepada para penulis muda.

Kepada anak muda secara umum, ia mengingatkan mereka tidak terlalu banyak kehilangan waktu hanya bermain gim, hiburan, dan lainnya. "Usia muda merupakan waktu yang tepat untuk pengembangan diri. Beberapa di antaranya membaca, banyak bertanya, berdiskusi, dan membaca alam. Jangan terlalu banyak kehilangan waktu untuk bermain, hiburan, atau bermain gim," kata Tohari. (H-5)

 

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya