Chacha Frederica Muslim dengan Pikiran Terbuka

Sri Utami
19/6/2018 00:45
Chacha Frederica Muslim dengan Pikiran Terbuka
(DOK INSTAGRAM)

SETELAH memutuskan mengenakan hijab pada April 2018, aktris Chacha Frederica semakin percaya diri tampil islami. Selain menjadi kewajiban muslimah, baginya perintah Allah SWT itu tidak bisa ditawar-tawar. Namun, baginya menjadi muslim yang taat menjalankan perintah agama, menjadi muslim yang berpikiran terbuka, dan maju merupakan hal yang wajib.

"Menjadi muslim juga menjadi orang yang berpikiran terbuka karena ajaran Islam itu penuh dengan way of life atau cara hidup manusia. Jadi, jangan terkesan tertutup dengan hal-hal baru karena Islam itu sebenarnya sangat modern," ujarnya saat diwawancarai beberapa saat lalu.

Bagi aktris 28 tahun ini, ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah harus disampaikan kepada semua umat muslim di dunia. "Rasul kan sudah mengatakan didiklah anakmu sesuai zamannya. Misalnya seperti sekarang ketika ada sebuah kebaikan berbasis teknologi, harus digunakan untuk sesuatu yang bermanfaat, seperti mendengarkan ngaji atau lainnya," ungkapnya.

Di sisi lain, sambungnya, kita harus dapat memanfaatkan momentum dan tegas dalam menjalankan ibadah, salah satunya saat bulan Ramadan. Perempuan kelahiran Jakarta itu pun menjalankan puasa dengan komitmen yang dibuatnya setiap hari.

"Harus pintar pilih waktu. Tadinya aku mau kurangi kerjaan, tapi malah banyak di bulan puasa. Itu berkah. Jadi aku bagi waktunya dari pukul 09.00-11.00, itu waktuku untuk mengaji, tadarus, khatam Alquran baru kerja," tegasnya.

Lebaran
Pelakon antagonis di sinetron Kisah Sedih di Hari Minggu ini menuturkan masa menyenangkan pada saat Lebaran. Baginya pengalaman Lebaran yang menyenangkan dan tidak terlupakan saat berkeliling kampung sambil membawa obor.

"Wah, itu yang paling membekas Lebaran saat usia 9-10 tahun. Aku keliling kampung ramai-ramai sama sepupu dan orang di kampung sambil bawa obor," ucapnya seraya tertawa.

Saat itu, menurutnya, tidak akan terulang lagi, bukan karena usianya yang sudah dewasa, melainkan ketiadaan opa dan omanya yang sudah meninggal. "Kau Lebarannya di Semarang. Dulu masih ada opa, oma semua keluarga kumpul. Jadi, makin dekat dengan keluarga besar. Kalau sekarang sudah tidak seperti dulu lagi," jelasnya.

Hal lain yang menyenangkan ialah mengenakan pakaian Lebaran yang sama dengan seluruh saudara dan sepupunya. Setelah itu, mereka diwajibkan berfoto setelah sungkem kepada orang tua saat lebaran.

"Itu satu lagi budaya lainnya. Aku sama sepupu semua pakai baju kembar lalu foto kembar. Jadi, setiap tahun pasti ada foto kembar. Pernah satu kali aku tidak mau bangun untuk mandi dan salat Id. Akhirnya aku dimandiin sama sepupuku. Pokoknya bahagia banget deh," tuturnya.

Seiring dengan bertambahnya usia, Chacha memaknai Idul Fitri sebagai ladang mengumpulkan pahala dengan saling memaafkan dan melatih diri melapangkan hati dan menahan emosi. "Perintah Alquran menyebutkan balaslah suatu hal yang buruk dengan kebaikan karena itu jauh lebih mulia di sisi Allah dan tentu saja ada pahalanya. Jadi, aku belajar mengubah pola pikir bahwa itu ladang pahala, mengontrol emosi, dan ikhlas," tandasnya. (H-5)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya