Marializia Adrenalin dalam Jurnalistik

Despian Nurhidayat
02/6/2018 03:20
Marializia Adrenalin dalam Jurnalistik
(MI/PERMANA)

KEHIDUPAN seorang jurnalis tidak bisa diprediksi. Setiap hari selalu ada kejutan dan kegitaan yang berbeda. Namun, ketidakpastian itu menjadi tantangan dan warna bagi para jurnalis. Tidak terkecuali bagi presenter Metro TV Marializia Hasni.
Marializia mengaku menikmati pekerjaan sebagai reporter yang berada di lapangan. Saat berada di lokasi, lanjut Marializia, sisi kemanusian individu bisa terbangun, seperti saat meliput korban bom ataupun berita-berita lainnya.

Maria mengaku memiliki sensasi tersendiri saat berada di lapangan atau saat membaca berita di studio. "Waktu dulu saya pernah ngepos di DPR  satu tahun setengah, nah itu saya suka juga karena kita bisa tahu ritme DPR dan update tentang DPR. Kalau di studio itu beda lagi adrenalinnya, juga berasa apalagi kalau breaking news," ucap Marializia kepada Media Indonesia di Jakarta, Jumat (25/5).

"Menurut saya, kedua-duanya menantang, tapi kelebihan dari di lapangan kita bisa tahu langsung dan semua yang terjadi di situ natural enggak dibuat-buat. Setiap saat saya selalu berharap jika ada kejadian-kejadian penting, kayak kemarin ada teror bom, bisa langsung ke tempat kejadiannya, pasti seru kan," imbuhnya.

Impian
Meski menjalani kehidupan sebagai jurnalis, Maria bukan dari jurusan jurnalistik. Perempuan kelahiran Solo, 5 Juni 1990 itu menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur.

Ketertarikan Marializia akan dunia jurnalistik sudah tampak sejak kecil. Orangtuanya pun mendukung keinginan putrinya sehingga mereka memasukkan Marializia ke tempat kursus dan pelatihan komunikasi sebelum mengenyam pendidikan hukum.

"Saya tuh punya keinginan untuk menjadi seorang penyiar berita dari kelas 6 SD, terus ikut kursus komunikasi, nah dari situ tuh udah mulai ikut lomba segala macam," ujar Marializia.

Setelah wisuda, Marializia mengikuti open recruitment dari Metro TV di Surabaya. Setelah menunggu beberapa hari, ia mendapatkan telepon untuk mengikuti tes lanjutan di Jakarta. Setelah proses tes selama 6 bulan, ia diterima dan mengikuti pelatihan di Media Indonesia.
Ternyata latar belakang pendidikan hukum Marializia sangat membantunya saat bertugas. Apalagi saat ia meliput persidangan. Memang pekerjaan di dunia jurnalistik terbuka untuk semua bidang pendidikan.

Terbukti, Marializia sempat membawakan berita olahraga. Meski awalnya sempat kesulitan, akhirnya ia menemukan keseruan tersendiri dalam dunia olahraga. Ia belajar untuk lebih santai membawakan berita olahraga dan banyak memainkan gimik-gimik. Bahkan sekarang ia pun memiliki klub kesayangan yakni Manchester United.

Hukum
Mantan President of National Chapter Asian Law Student Association (ASLA) Indonesia ini mengaku miris dengan kondisi hukum di Indonesia. Menurutnya, undang-undang mengenai korupsi nilainya kurang jelas dan harus diperbaiki. Sistem birokrasi juga menyulitkan untuk membuat Indonesia maju. Lalu KUHP masih dari zaman Belanda dan tidak mengikuti zaman sekarang.  

Perbaikan hukum Indonesia, kata Marializia, perlu cepat supaya tidak kalah dari negara lain. Pasalnya Indonesia memiliki sumber daya alam dan manusia yang berlimpah, tapi tidak bisa mengolahnya.

"Kalau menurut saya, baru kelihatan sekarang nih kayak sekolah-sekolah bagus dan jaminan pendidikan pun baru sekarang yang bagus. Jadi dari sekarang lebih baik kita bersusah-susah dulu dan insya Allah pati bisa beberapa tahun kemudian."
Di samping itu, Marializia melihat kebinekaan di Indonesia harus diperbaiki karena sebenarnya kebinekaan Indonesia masih belum terbangun akibat banyak hal, dan Indonesia harus tetap menjadi negara yang menjunjung persatuan dan kesatuan. (M-3)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya