Dewi Sandra Ramadan Penuh Pembelajaran

Siti Retno Wulandari
31/5/2018 04:00
Dewi Sandra Ramadan Penuh Pembelajaran
(MI/Rommy)

BANYAK belajar dan bersyukur, dua hal itu dipegang aktris dan penyanyi Dewi Sandra dalam mengisi Ramadan tahun ini. Salah satu pelajaran sekaligus rasa syukur didapat Dewi saat mendapat kesempatan belajar bahasa isyarat di Little Hijabi Homeschooling, Bekasi, Jawa Barat.

Dewi teringat cerita putra Dewi Yull, Surya Sahetapy, yang menyebut dirinya tuli, dan sempat ditegur lantaran temannya menggunakan ponsel sebagai media menyampaikan pesan khotbah saat salat Jumat. Peristiwa yang bermula dari ketidakpahaman itulah yang menjadi pembelajaran pentingnya empati dan wawasan tentang orang-orang di sekitar, yang memiliki kebutuhan khusus.

"Diajari Surya belajar bahasa isyarat, lalu bersama-sama membuat komunitas yang mendukung para penyandang tunarungu mendalami agama melalui bahasa isyarat," kata Dewi seusai berkeliling museum transportasi Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, bersama anak yatim dan duafa dalam acara Wardah Berbagi Senyum Kebaikan, Rabu(30/5).

Perempuan berdarah Betawi itu pun menularkan pemahamannya tentang orang-orang tuli itu pada anak-anak juga wartawan. Dewi mengajari mengucapkan salam dan alhamdulillah dengan bahasa isyarat.

Tangan dengan sikap hormat diturunkan, menjadi sikap seperti bersalaman, dihentakan sebanyak tiga kali. Ia juga menjelaskan artinya, sikap hormat merupakan sikap tertinggi karena mendoakan sesama.

"Mereka yang tak bisa mendengar juga sangat ingin mendengar suara azan, ingin mengetahui kisah-kisah rasul, juga isi dari Alquran."

Khatam Alquran
Selain berbagi dengan sesama, Dewi memiliki target untuk bisa menuntaskan ibadah membaca Alquran pada Ramadan ini. Di hari ke-14 puasa, Dewi sudah sampai pada juz 13, ia lantas meminta doa agar target khatam bisa tercapai.

Selain itu, ada tiga pengajian wajib yang diikutinya dalam satu pekan. Di antaranya, pertemuan yang disebutnya liqo serta kajian fikih, keduanya khusus perempuan di sekitar lingkungan tempat tinggal, serta pengajian pasangan suami istri (pasutri).

"Target khatam Alquran. Lalu, tradisi-tradisi juga saya coba kurangi, seperti tradisi buka bersama, lebih banyak waktu mengikuti majelis taklim. Tentu dipilah, harus yang kajiannya baik dan memiliki hikmah," tukas perempuan yang senang dengan kondisi jalanan Jakarta saat Hari Raya yang selalu sepi, bebas macet.

Belajar dari kajian membuat Dewi makin banyak mendapat ilmu, seperti hal-hal kecil, keharusan berwudu sebelum salat, yang ternyata punya banyak hikmah. Semua pembelajaran itu bisa didapatnya dari kajian yang diikuti. Ia menyakini, merasa kurang paham atau fakir ilmu, bukan berarti harus berkecil hati, justru dengan banyak mencari makna, keyakinan dalam melakukan ibadah menjadi bertambah.

Tak harus baru
Sisi lain yang terbaru dari Dewi, bisnis daring yang sedang digelutinya. Meskipun ia mengaku tidak terlalu banyak tahu perihal omzet, sebentar lagi produk berupa mukena miliknya akan segera diluncurkan.

Mukena adem, begitu kata perempuan berhijab itu menyebut produk yang akan dijualnya. "Bahannya enggak membuat gerah. Untuk harga, pasti akan sangat terjangkau. Tapi, tak ada target soal penjualan karena tidak ada kampanye dari saya agar Lebaran harus dengan pakaian baru." (M-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya