Ade Mulya Dijejali Tayangan Berita sejak SMP

Abdillah Marzuqi
26/5/2018 01:00
Ade Mulya Dijejali Tayangan Berita sejak SMP
(MI/PERMANA)

TIDAK banyak yang tahu bahwa pembawa berita Metro TV, Ade Mulya, punya perjalanan kisah menarik terkait dengan pilihannya menjadi seorang jurnalis televisi. Kisah itu bermula dari ketika Ade duduk di bangku sekolah menengah. Orangtua menjadi pemantik efektif atas pilihan Ade. Saat itu, mereka banyak menonton berita yang membuat Ade mau tidak mau harus mengkuti aktivitas mereka. Dari situlah rupanya Ade menemukan profesi impian dan idola yang harus diturut jejak langkahnya.

"Jadi, sejak SMP saya sudah nontonnya kayak orangtua saya itu menjejali saya tayangan Liputan 6 pada waktu itu. Ada Ari Suditomo, ada Ira Koesno, sejak saat itu otomatis idola saya ya orang-oarang itu," terang Ade.

Keinginan itu semakin dipertegas ketika peristiwa Reformasi 1998 yang menjadi sorotan berbagai media, termasuk media televisi. Ade pun semakin mantap untuk menjadi seorang jurnalis televisi. Cita-cita itu terus dirawatnya hingga lulus dari sekolah menengah atas.
"Sampai pada SMA saya memutuskan cari kampus yang ada jurnalistiknya, jadi saya ambil S-1 jurnalistik.

"Sekolahnya jadi semangat karena sesuai passion kan," tambah pria yang mengisi program Metro Siang, Metro Bisnis, dan terkadang juga di Prime Time News itu. Lulus sarjana, Ade mengikuti ajang pencarian bakat untuk presenter televisi yang diselenggarakan salah satu stasiun televisi swasta. Ia berhasil masuk sampai ke tahapan semifinal.

Dari pencarian bakat itulah, pada 2004, Ade mulai magang menjadi presenter berita di stasiun televisi tersebut. Ia pun mulai mengenal jejaring profesional jurnalis televisi. Tidak hanya bekerja, Ade juga melanjutkan studi dengan mengambil master bidang ekonomi. Pada 2008, ia kemudian berpindah ke stasiun televisi lain dan akhirnya pada 2015 memilih berkarya di Metro TV.

"Tiga tahun lalu (mulai) bergabung adalah momen melegakan. Bergabung dengan Metro TV adalah salah satu hal yang menjadi tolok ukur kesuksesan saya dalam karier jurnalistik," kata pria yang mengaku sudah mengidamkan berkarya di Metro TV sejak 2001 tersebut, yakni sejak peliputan Metro TV dalam kejadian serangan teroris di Menara WTC di New York, Amerika Serikat.

Kini pria yang banyak mewawancarai tokoh-tokoh nasional itu semakin menikmati profesinya. Ia bertekad memberikan karya-karya terbaik untuk pemirsa.

Sahur di kantor
Di bulan Ramadan, aktivitas jurnalistik Ade tidak berkurang. Ia pun terbiasa menjalani ritual sahur dan berbuka di sela-sela tugas, termasuk sahur di kantor seiring dengan jadwal siaran malam yang beberapa waktu lalu menjadi rutinitasnya.

"Setelah sekian lama baru dibalikin ke pagi. Jadi waktu itu masuk siaran setengah lima. Jadi di kantor sekitar jam dua pagi. Jadi kita sahur bareng di kantor," terang pria yang sebelumnya membawakan acara Metro Pagi Prime Time yang tayang mulai pukul 04.30 WIB.

Justru, tambah Ade, menjalani sahur bersama dengan teman kantor menciptakan rasa kekeluargaan yang erat. Hubungan itu pun terus bertahan meski kini Ade sudah menggawangi program lain.

Ramadan juga menjadi bulan introspeksi baginya. Di bulan suci ini ia mengevaluasi kembali segala yang telah terjadi selama setahun. Bukan hanya persoalan hubungan manusia dengan Tuhan, melainkan pula hubungan manusia dengan manusia.
"Kalau selama kerja kadang-kadang kita ada buruk sangka sama orang, ada jengkel, ada dongkol, pas Ramadan belajar untuk banyak ikhlas. Ya introspeksi diri sih intinya," ujarnya.

Ade berharap introspeksi itu dapat melahirkan semangat yang baru dan perbaikan diri untuk ke depannya. (M-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya