Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PENDIRI start-up Queenrides, Iim Fahima, 40, memilih dialog sebagai salah satu cara berkomunikasi dengan dua buah hatinya. Topik apa pun dapat menjadi bahan diskusi, termasuk isu radikalisme yang terjadi belakangan ini. Dengan berdialog, Iim mengedepankan komunikasi dua arah sehingga dia berharap informasi yang diserap sang anak dapat disortir. Iim dan suami, Adhitia Sofyan, memcoba memperlakukan kedua buah hati sebagai individu, bukan anak-anak semata.
"Banyak hal-hal di luar sana yang menggunakan agama untuk mencapai kekayaan atau kekuasaan atau motif-motif yang dibungkus dengan agama. Kalau kita lihat kasus Rohingya ataupun kejadian yang ada di Indonesia, maka kita jangan terjebak seolah-olah itu konflik agama karena biasanya ada motifnya. Itu yang harus kita hati-hati," tutur perempuan kelahiran Semarang, 7 Februari 1978, tersebut saat dihubungi pekan lalu.
Dari serangkaian dialog yang dibiasakan, Iim menilai kedua anaknya, yakni Maleeka Kendra Adhitia, 10, dan Kairo Hira Adhitia, 5, kini tumbuh menjadi individu yang toleran. "Yang paling sering kita diskusi dalam adalah dengan Maleeka," jelas penyandang 10 ASEAN Entrepreneurs 2015 dari ASEAN Entrepreneurs Community tersebut.
Ya, perbedaan itu ada dan harus dihormati. Iim mendidik anaknya dengan memberikan contoh. Ia bersama suami memperlihatkan kepada sang anak untuk luwes dalam bergaul tanpa membeda-bedakan. "Kita bergaul dengan siapapun tanpa melihat apakah orang Indonesia atau bukan, dengan agama yang berbeda-beda. Jadi mereka terbiasa melihat perbedaan dan tidak menganggap perbedaan itu sebagai sesuatu yang menyebalkan. Kalau semuanya sama ya tidak menarik," tukas peraih penghargaan Young Global Leader dari The World Economic Forum 2014 itu.
Ia selalu berpesan kepada anak-anaknya untuk belajar dari adanya perbedaan itu, mengambil nilai-nilai baik di dalamnya, dan meninggalkan yang tidak baik. Ajak anak iktikaf Sebagai CEO of Queenrides, situs daring pertama di dunia yang fokus memberdayakan perempuan untuk berkendara aman dan selamat, Iim tak menampik aktivitasnya di luar rumah cukup menyita waktu. Terlebih, anggota Queenrides di berbagai media sosial kini telah mencapai ratusan ribu.
Namun, Iim mengaku selalu memprioritaskan keluarga, termasuk pada Ramadan kali ini. Perempuan yang sudah malang melintang di bisnis digital itu telah mengatur sedemikian rupa aktivitasnya sehingga tidak pernah keteteran dalam mengurus anak-anaknya.
"Kita di rumah sebelum magrib sudah pada kumpul lalu salat bareng, buka puasa bareng gitu saja karena ritme kami setiap hari seperti itu," pungkas perempuan yang sehari-harinya tidak mengonsumsi nasi dan lebih banyak makan sayur dan buah tersebut.
Dalam menjalankan ibadah Ramadan, Iim mengaku di keluarganya tidak ada yang spesial, semuanya berjalan seperti biasa. Anak-anaknya sudah terbiasa untuk mengaji setelah magrib serta menghafalkan Alquran saat menjelang tidur. "Paling ritual tambahan tarawih dan biasanya 20 hari pertama rata-rata kami (tarawih) di rumah baru sisa 10 hari terakhir kita ke masjid dan anak-anak itu kalau 10 malam terakhir juga ikut iktikaf," tutup alumnus Akademi Komunikasi Media Radio dan Televisi tersebut. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved