(Bukan) Lagu Cengeng Melulu

Adiyanto
20/5/2018 20:34
(Bukan) Lagu Cengeng Melulu
(AFP)

SEBUAH studi baru-baru ini mengungkapkan lebih dari 30 tahun terakhir musik pop didominasi lagu-lagu sedih. Para peneliti dari Universitas California, Amerika Serikat menemukan dari sebanyak 500.000 lagu yang dirilis di Inggris antara 1985 hingga 2015, ternyata lebih banyak yang menyuarakan kesedihan ketimbang kegembiraan. 

Dalam laporan penelitian yang dimuat di jurnal Royal Society Open Science itu, mereka telah memeriksa ratusan ribu lagu dan mengkategorikannya berdasarkan suasana hati mereka.  "Kebahagian atau keceriaan turun. Sebaliknya kesedihan meningkat. Namun begitu, sekarang banyak lagu lebih danceable (mudah ditarikan) dan bernada riang,"' ujar Natalia L. Komarova, kepala peneliti yang menulis laporan itu kepada The Associated Press seperti dikutip Independent, Minggu (20/5).

Hasil penelitian itu menemukan lagu yang ngetop di tahun 2014, seperti  Stay With Me-nya Sam Smith, atau Whispers yang dilantunkan band yang dimotori Michael David Rosenberg, Passenger, dan Unmissable milik Gorgon City, memiliki indek kebahagiaan yang rendah. Sementara trek yang ngetop di tahun 1985, seperti Glory Days yang dilkumandangkan Bruce Frederick Joseph Springsteen alias Bruce Springsteen, atau Would I Lie to You?  milik The Eurythmics, atau Freedom-nya Wham!, menempati indeks kebahagiaan tinggi.

Akan tetapi, para peneliti mengatakan, bukan berarti lagu-lagu yang ngetop pada era 80-an seluruhnya gembira, begitu juga sebaliknya lagu-lagu di era 2000-an seluruhnya cenderung murung. "Masyarakat sebenarnya suka lagu riang meski tiap tahun ada juga lagu sedih atau cengeng yang dirilis. Meskipun mood-nya sedih, mereka berupaya melupakan dengan mencoba berdansa," tulis laporan tersebut. 

Musik memang sejatinya adalah medium ungkapan perasaan, entah itu sedih, senang, ataupun marah. Sebagai karya seni yang baik, dia seharusnya lahir dari suasana hati penciptanya. Jika lirik maupun nada yang dilantunkan kemudian beresonansi di dinding hati pendengarnya dan tercipta chemistry, itu hal yang sangat manusiawi. 

Hal yang kurang manusiawi barangkali apa yang dilakukan rezim Orde Baru, yang pada dekade 80-an dulu melarang lagu berlirik cengeng. Entah apakah kebijakan itu menurut titah Bapak Presiden atau bukan, yang pasti seusai pidato yang disampaikan Menteri Penerangan Harmoko di TVRI, lagu-lagu seperti yang dilantunkan Dian Piesesha, Betharia Sonatha, atau Pance Pondaag, tak lagi muncul di stasiun televisi satu-satunya milik bangsa tersebut. 
 
Tapi, itu dulu. Di era kegelapan, era sebelum reformasi. (E-2)
 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Adiyanto
Berita Lainnya