Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LARI maraton sejauh 42 kilometer bukan perkara mudah. Apalagi bagi pelari pemula. Tidak terkecuali bagi jurnalis sekaligus pembawa berita Andini Effendi. Perempuan kelahiran Bandung, 12 Desember 1982 itu harus melakukan persiapan khusus untuk mengikuti ajang lari maraton di Paris, Prancis, April lalu.
Perempuan yang mengaku tidak menyukai lari itu tertantang ikut maraton setelah temannya bernama Robert, 40, ikut maraton. "Dia bilang 'Kamu kan enggak pernah lari, enggak pernah latihan'. Aku, kalau ada orang meragukan, justru ingin bisa membuktikan kalau itu salah. Akhirnya dua bulan lebih menjelang maraton latihan pakai trainer, berdua sama teman dekat. Kita latihan seminggu empat kali dimulai pukul setengah lima pagi," ujar Andini.
Jelang hari H ia berdoa tidak cedera dan trauma. Setelah dijalani, Andin mengaku ia seperti melakukan travelling dengan cara berbeda di Paris. "Ternyata sepanjang perjalanan senang banget, bisa melihat Paris dengan berbeda, biasanya sambil foto-foto, atau main handphone.
Ini benar-benar jalan-jalan menikmati Paris with my own feet. Pas lari juga orang-orang cheering di sekitarnya kasih semangat. Setelah itu tidak ada luka, kulit-kulit menumpuk di jari kaki juga tidak ada. Pengalaman yang smooth," kenang perempuan yang menamatkan pendidikan magisternya di New York University itu.
Tahun depan Andini pun berencana ikut maraton di Norwegia. Pasalnya ia ingin mencoba midnight sun marathon di negara tersebut. "Di sana Juli itu musim panas, mataharinya panjang banget sampai pukul 8-9 malam. Jadi, kita ingin merasakan itu," tutur pembawa acara program Q&A di Metro TV itu.
Dari maraton, Andini berhasil memetik hal positif. Ia bisa belajar sabar dan mampu mengukur kemampuan dirinya sendiri.
Pecinta traveling
Perempuan berusia 35 tahun itu ternyata menyukai travelling. Ia selalu menyempatkan waktu untuk melakukan perjalanan singkat, termasuk saat saat perjalanan dinas. "Kalau worktrip, aku selalu ambil extend (perpanjangan) untuk bisa ambil liburan sendiri," tutur Andini.
Apalagi pekerjaannya sebagai jurnalis mengantarkannya ke berbagai tempat dan bertemu banyak orang dari beragam budaya.
"Traveling karena kerjaan. Aku senang enggak berada di satu tempat. Kalau di Jakarta merasa sudah enggak betah, harus keluar, melihat, ketemu orang. Misalnya ada kejadian, kalau bisa, dapat story itu. Tidak bisa melaporkan aja dari dalam studio. Itu tidak menjadikan aku sebagai seorang jurnalis," canda Andini.
Dari semua negara yang sudah dijelajahinya, jurnalis yang sempat meliput bom Boston 2013 itu kagum dengan negara-negara Amerika Latin. Selain makanan, Andini merasa ada banyak kesamaan antara Amerika Latin dan Indonesia seperti warna kulit dan kebudayaan yang sangat menjaga kuat kekeluargaan.
"Gara-gara nonton Pocahontas, aku suka Indian American. Aku pernah pertama kali ke Meksiko aku merasa banyak persamaan dengan Indonesia, family oriented, kulit-kulitnya juga sama dan selalu dipikirnya orang sana. Waktu di Meksiko tinggal di rumah susun temanku. Jadi, aku tahu bagaimana mereka tinggal.
Lalu pernah ke Argentina, Bolivia, Cile, Ekuador, selalu ingin kembali ke sana," ujarnya. Dari travelling, ia belajar menjadi orang yang lebih toleran dan menghargai orang lain dalam keragaman. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved