Pesan Nyata Melawan Perdagangan Orang

Siti Retno Wulandari
06/5/2018 01:15
Pesan Nyata Melawan Perdagangan Orang
(Foto: MAIZIDAH SALAS)

KURANGNYA informasi dan pendidikan menjadi penyebab masih tingginya angka perdagangan orang. Perempuan menjadi kaum yang rentan. Keinginan untuk menjadi cepat kaya dan hidup mewah masih kerap mewarnai mimpi-mimpi remaja desa sehingga tawaran gaji besar tanpa detail pekerjaan belum jelas mereka terima untuk mewujudkan mimpi.

Wulan tak kuasa membendung keinginannya untuk memiliki sepeda motor matik seperti milik temannya, Menuk. Malam itu ia menyampaikan keinginannya kepada sang kakak yang sedang memipil jagung kering, Jum. Namun, keterbatasan dana membuat Menuk tidak bisa memenuhi permintaan adik kecilnya itu. Wulan tak mau mengalah. Dengan nada tinggi ia lantas mengancam pergi dari rumah.

Jum sedih, bermaksud bertandang ke rumah bapaknya, tetapi ia justru disuruh pulang tanpa ada solusi. Sang bapak merasa Jum justru membuatnya tambah pusing sembari mengungkit perilaku ibunya yang bekerja di Taiwan dan menikah dengan laki-laki Taiwan. Jum pun menuruti perintah untuk pulang. Ia menangis menghadapi kondisi adik kecilnya yang ingin seperti temannya, tapi orangtuanya justru tak mau membantu.

Kambing kecil, satu-satunya harta Jum yang sengaja dibeli untuk dipelihara hingga besar. Setelah itu, akan dijual untuk modal membuat warung. Lagi-lagi itu hanya impian. Sembari mengelus kepala kambing kecilnya, Jum menuntun menyusuri jalan untuk bertemu sang pemilik baru. Sempat dicegah bapak kepala desa agar kambing kecilnya tidak dijual, Jum berkukuh lebih baik kehilangan kambing daripada adik kecilnya, Wulan.

Keesokan harinya, dengan raut muka bahagia dan senyum merekah Jum bersemangat mengelap setiap bagian motor. Ia pun lantas menyuruh Wulan untuk menaiki motor tipe bebek. Permintaan tersebut ditolak dengan amarah. Wulan menilai motor tersebut jelek tidak seperti milik Menuk. Wulan mengemas pakaiannya dan pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Jum, menuju rumah Menuk.

Sesampainya di rumah Menuk, sudah ada dua perempuan lain dan Yanto, laki-laki yang ditaksir Wulan. Yanto dan Menuk memberi iming-iming gaji besar untuk bekerja di Malaysia sambil ketiga perempuan yang belum genap berusia 17 tahun itu dipersilakan minum. Wulan dan kedua perempuan lain pingsan seusai meminum suguhan dari Menuk. Ketiganya langsung dibawa menuju suatu tempat berupa gudang.

Rupanya Yanto dan Menuk mendapat imbalan uang dari bos yang akan menjual ketiga gadis tersebut ke luar negeri. Di dalam gudang mereka mendapat intimidasi, salah satunya dengan ditodong pistol. Hingga di suatu kesempatan, Wulan bisa terbebas dari mafia perdagangan orang dan kembali hidup bahagia di kampung halamannya, Wonosobo. Semua juga dengan dukungan kepala desa dan aparat penegak hukum setempat.

Antara jenuh dan berharap
Film Impian Negeri Berkabut yang diputar di @america dan berdurasi 41 menit itu tergolong fiksi. Cerita nyata yang terjadi di desa itu dan daerah lainnya.

Maizidah Salas, sang produser yang juga berperan sebagai Jum, mengatakan film ini merupakan hasil kejenuhan sekaligus harapan dari situasi yang pernah dialaminya dulu. Banyak orang tidak terbayang dan tidak percaya kepolosan itu masih ada di desa-desa. Pun dengan belum berdampaknya sosialisasi antisipasi praktik perdagangan.

"Karena biasanya dengan modul-modul, kali ini saya harap dengan film dan diskusi pesannya benar-benar tersampaikan. Saya ingin penyebarannya bisa sampai desa tempat kantong-kantong buruh migran," ujar Salas yang pernah menjadi korban perdagangan orang di Jakarta, Kamis (3/5).

Sebagai produser, Salas juga dibantu Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Venetia R Danes selaku eksekutif produser. Latar belakang film pendek tersebut ialah Wonosobo yang merupakan daerah asal Salas dan kantong pekerja migran, peringkat ketiga di Jawa Tengah.

Salas bahkan menginginkan film yang diproduksi hanya dalam waktu dua bulan ini bisa masuk ranah pendidikan. Setelah diskusi terbuka perbedaan cara padang, semua pesan dalam film ini tersampaikan.

Untuk pemain, perempuan yang pernah bekerja di Taiwan ini mengajak serta mantan-mantan pekerja migran, termasuk mereka yang anaknya pernah menjadi korban perdagangan orang. "Tidak ada proses reading. Kami langsung melakukannya saat syuting. Pertama kali diputar pada 18 Desember bertepatan dengan Hari Buruh Migran, lalu di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)," pungkasnya.

Pesan tersampaikan
Ada pesan khusus yang ingin disampaikan. Pesannya agar remaja perempuan semakin waspada dan tidak mudah tergiur pada pendapatan materiil yang cepat sangat tergambar dalam film tersebut. Gambaran perempuan yang masih kurang informasi dan pendidikan pun tergambar jelas, mudah tergiur dengan barang-barang mewah, seperti sepeda motor dan ponsel.

Hanya, di beberapa adegan terdapat lompatan yang cukup jauh. Seperti tetiba tidak ada proses transaksi pembelian motor dan penjualan kambing.

Ada peranan asmara yang juga ditampilkan dan menjadi salah satu daya pikat bagi Wulan untuk ikut bersama Yanto dan Menuk. Alasan itu menjadi salah satu penyebab seseorang terjebak pada suatu kegiatan yang tidak diketahui secara jelas. Haru, rasa itu juga muncul saat melihat perjuangan seorang kakak untuk bisa membahagiakan sang adik, tapi justru tidak dihargai.

Secara keseluruhan pesan film tersampaikan dengan jelas. Keindahan latar menjadi bukti kekayaan negeri dengan hijaunya persawahan serta perbukitan, keakraban dan sikap saling tolong-menolong di antara sesama yang juga nilai kuat dari Indonesia. Akting mereka sangat natural meskipun film dikerjakan dalam waktu singkat.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya