Maudy Ayunda Menginspirasi Milenial

Ardi Teristi
04/5/2018 01:30
Maudy Ayunda Menginspirasi Milenial
(MI/Sumaryanto Bronto )

PENYANYI sekaligus pemain film Ayunda Faza Maudya atau akrab disapa Maudy Ayunda, 23, baru saja meluncurkan buku berjudul <i>Dear Tomorrow, Notes to My Future Self Dalam perbincangan bersama media, Senin (30/4) di Jakarta, Maudy bercerita, sebelum menulis buku tersebut, dirinya sudah tahu konsep buku yang akan ditulis, yaitu yang bisa menginspirasi dan memotivasi. Secara keseluruhan, ide buku tersebut tercipta dari peleburan ide Maudy dengan editornya, Baiq Nadia.

Ketika memutuskan menulis buku, salah satu kekhawatirannya ialah menulis buku yang isinya menggurui. Maudy merasa dirinya juga terlalu muda untuk menggurui anak-anak muda tentang cara meraih kesuksesan. "Menurut aku, perjalanan kesuksesan setiap anak muda itu berbeda-beda," kata dia.

Oleh sebab itu, bukunya tidak untuk menggurui siapa-siapa. Itu menjadi tantangan menulis buku untuk memotivasi dan menginspirasi para milenial, tetapi tanpa memaksakan motivasi itu muat buat orang lain. Ia menulis buku yang tidak berteori, tetapi cerita yang mengalir berdasar intuisi tentang dirinya. "Buku ini menggambarkan aku selama ini," kata dia.

Dalam buku tersebut, Maudy menggunakan bahasa Inggris karena buku pertamanya tersebut sangat personal. "Buku ini sangat personal banget. Aku ingin orang bisa mengintip isi kepala pikiran aku dengan akurat dan tepat kayaknya akan lebih baik dalam bahasa Inggris," kata dia.

Maudy mengaku, ketika pertama kali dirinya menulis formal, bahasa pengantarnya ialah bahasa Inggris. Ia pun merasa bisa lebih natural bila menyampaikan ceritanya dalam bahasa Inggris. Ia mengaku, banyak penggemarnya yang menginginkan buku tersebut dalam versi bahasa Indonesia. Ia pun berjanji, buku ke depannya mungkin akan menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Maudy pun mengaku berterima kasih dan senang atas respons terhadap buku tersebut. Pasalnya, dalam waktu 36 jam saja pre-order nya mencapai 500 eksemplar.

Editor
Maudy menceritakan dirinya menyadari suka menulis sejak duduk di sekolah dasar, yaitu menulis cerpen dan buku harian. Bahkan, cerpen-cerpen tersebut didokumentasikan dengan rapi oleh ibunya.

Saat sekolah, aku Maudy, dirinya suka pelajaran-pelajaran yang memintanya merangkai gagasan, argumentasi, atau jawabannya melalui kalimat panjang. "Aku merasa menulis itu sesuatu yang sangat nyaman dan sangat intuitif," kata dia.

Maudy menyadari, dirinya ialah seorang introver. "Saya lebih nyaman untuk mengungkapkan lewat seni atau tulisan," kata dia.

Maudy mengatakan, walau sama-sama menulis, antara menulis untuk keperluan akademis dan menulis kreatif berbeda. Dalam menulis untuk tugas akademis, ia mengaku suka dengan tenggat, tetapi untuk menulis kreatif mengikuti mood.

Walau demikian, Maudy memiliki cara-cara tersendiri apabila tidak muncul <I>mood<p> ataupun terjadi <i>writer's block<p>. "Solusinya memanggil editor. Aku orangnya, kalau ada editor di depan, seperti ada <i>deadline<p>," kata dia. Dengan berbincang dengan editor, ia kembali bisa menemukan struktur dan menemukan gagasan untuk tulisannya. (H-5)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya