Angkie Yudistia Konsisten Perjuangkan Kaum Disabilitas

Retno Hemawati
02/5/2018 00:45
Angkie Yudistia Konsisten Perjuangkan Kaum Disabilitas
(MI/PERMANA)

Womanpreneur yang merupakan CEO Thisable Enterprise, Angkie Yudistia, 31, semakin konsisten berjuang untuk penyandang disabilitas. Dia telah lulus berjuang menghadapi banyak penolakan dan berhasil mandiri.

Hal itu membuat dirinya tetap berkeinginan agar para penyandang disabilitas, sama seperti dirinya, mampu berdaya sehingga menghasilkan karya. Dengan berkarya diharapkan mereka mampu meningkatkan derajat secara ekonomi. Hal itu berangkat dari pengalaman dirinya yang sulit mendapatkan pekerjaan karena keterbatasannya.  

Saat ini Thisable Enterprise sebagai social enterprise bersinergi dengan beberapa pihak. Salah satunya yang sedang berjalan ialah dengan Go Life. Mereka memiliki basis data penyandang disabilitas yang jumlahnya mencapai 1.500 lebih.

Basis data itu siap pakai dan sangat organik, bukan sekadar data mentah. “Dari data itu sudah bisa diketahui seseorang menyandang disabilitas apa, bisa bekerja di bidang apa, kemampuan dan keterbatasannya apa, lengkap,” kata Angkie.

Baginya, para penyandang disabilitas harus mampu berkarya. "Karena setiap manusia memiliki kemapuannya masing-masing. Dengan mampu berdaya akan menghasilkan karya sehingga mampu meningkatkan derajat secara ekonomi," katanya di Jakarta, Kamis (26/4).
Dia juga percaya di masa kini penyandang disabilitas ialah bagian dari kehidupan masyarakat, kehidupan kita, walaupun memiliki keterbatasan fisik. "Tetapi yang jelas mereka memiliki kemampuan untuk berkarya dan berdaya," tutur dia.

Dengan berkarya dan berdaya, dia berharap kaum disabilitas bisa menggapai apa yang menjadi mimpi mereka, menyejahterakan kehidupannya. "Sebagai contoh, tidak lagi bergantung banyak kepada orang terdekat bahkan sekitarnya karena sudah bisa memilah apa yang dibutuhkan."

Uji kompetensi
Kini Thisable Enterprise mempunyai data riil terkait dengan penyandang disabilitas yang siap diberdayakan yakni sebanyak 1.500 orang. Angkie menjelaskan mereka yang tercatat telah diuji kompetensi, baik secara online maupun offline. "Hasilnya, mereka yang terdiri dari tunadaksa, tunarungu/tuli, tunagrahita, dan tunanaetra punya kemapuan bekerja dengan kemampuan sebanyak 80% vokasional dan 20% profesional."

Sejauh ini baru 10% yang telah mengaryakan mereka. "Karena ada beberapa aspek yang menjadi kendala termasuk awareness dan aksesibilitas. Kami pun berusaha untuk melakukan pendekatan dan pendampingan agar perusahaan-perusahaan menjadi perusahaan yang siap dengan lingkungan inklusif," kata Angkie yang tengah mengandung lima bulan ini.

Saat berhadapan dengan penyandang disabilitas rupanya banyak kisah yang menyentuh hati. Dia bercerita ada yang rela datang dari luar kota demi bisa bekerja ke Jakarta, padahal beliau tunanetra. "Tapi yang paling menarik ialah para assessor (penguji kompetensi) begitu terharunya dengan spirit keinginan kaum disabilitas untuk mandiri secara ekonomi karena memang kebutuhan hidup semakin mendesak," tukas ibu Kayla Almahyra itu. (H-2)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya