Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
GARY Oldman meraih Piala Oscar 2018 untuk kategori aktor utama terbaik atas perannya sebagai Winston Churchill dalam film Darkest Hour.
Oldman mengalahkan empat nomine, yaitu Timothee Chalamet (Call Me by Your Name), Daniel Day-Lewis (Phantom Thread), Daniel Kaluuya (Get Out), dan Denzel Washington (Roman J Israel Esq).
Oldman memberikan apresiasi kepada Sir Winston Leonard Spencer Churchill, sebagai tokoh politik dan Perdana Menteri Britania Raya dalam Perang Dunia II, karena mampu menginspirasi banyak kalangan.
"Saya hanya ingin memberikan hormat kepada Wiston Churchill, atas peranannya sebagai ahli strategi, orator, diplomat dan politikus terkemuka hingga menjadi tokoh paling berpengaruh di dunia," kata Oldman dalam sambutannya seusai menerima Piala Oscar, Minggu (4/3) malam waktu Los Angeles, Amerika Serikat.
Oldman telah berperan dalam sejumlah film sukses lainnya, di antaranya Beethoven, Lee Harvey Oswald, Sid Vicious, dan Pontius Pilatus, dalam 35 tahun kariernya berakting. Namun, ia mengakui perannya sebagai Churchill-lah yang paling menantang dan menakutkan sejauh ini.
"Saya berperan dalam ketakutan. Namun, mungkin itu yang memberikan hasil atas pekerjaan terbaik," paparnya.
Di lain sisi, Oldman memang akrab bagi penggemar Batman berkat perannya sebagai Komandan Gordon, kepala polisi Gotham. Perannya itu dilakoni sejak film Batman Begins (2005), The Dark Knight (2008), dan The Dark Knight Rises (2012). Namun, sosok kepala polisi Gordon sama sekali tidak tersisa saat ia memerankan Churchill.
Sebelum meraih Oscar, Oldman juga meraih Golden Globes 2018 atas perannya sebagai Churchill. Kedua penghargaan itu menjadi yang pertama bagi aktor kelahiran 21 Maret 1958 itu.
Darkest Hour bercerita tentang sikap Churchill ketika mengambil langkah dan strategi dalam melawan Nazi Jerman. Sang sutradara Joe Wright menjadikan film itu sebagai masterpiece. Setiap adegan dikemas dengan apik dan berkelas, dialog-dialog mampu memberi gambaran kondisi politik Inggris pada saat Perang Dunia II.
Meski tema yang diusung politik, penyampaiannya dibarengi humor klasik sehingga dijamin tidak akan membuat penonton bosan. Plot dan alur cerita sederhana juga sangat mudah dicerna penonton, tidak membuat jenuh dengan dialog yang bertele-tele.(Reuters/FD/X-10)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved