Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTUNJUKAN dengan panggung besar nan megah nyatanya tidak selalu diimpikan setiap penyanyi. Setidaknya itulah yang dirasakan Andini Aisyah Hariadi atau yang akrab dengan nama panggung Andien, 32. Perempuan kelahiran Jakarta itu, Jumat (12/1) malam, menggelar pertunjukan sederhana dalam bentuk showcase di bilangan Jakarta Selatan. Pergelaran yang bertajuk sama dengan album terbarunya, Metamorfosa, menjadi penanda 17 tahun kariernya di dunia musik Tanah Air.
Menurutnya, pertunjukan berskala kecil dalam format showcase membuat penonton tak berjarak dengan sang penyanyi ataupun musikus. Sebabnya, interaksi dengan penonton bisa terjadi lebih banyak ketimbang pada konser di panggung besar dengan ribuan penonton. Baginya, kesempatan untuk lebih dekat kepada para penggemar seperti itu saat ini sudah terbilang langka.
"Saya bermimpi menyelenggarakan sesuatu yang intim dari beberapa tahun lalu. Saya ingin balik ke zaman dulu ketika banyak acara intim, sekarang jarang acara seperti itu. Saya ingin mengenalkan kepada kalian (pendengar), ini musik saya. Ada cerita di balik lagu," ungkapnya seperti dilansir Antara, kemarin.
Dalam konser album Metamorfosa itu, Andien berkolaborasi dengan komunitas seni visual Kelas Pagi. Ia juga meluncurkan dua nomor tunggal terbaru berjudul Metamorfosa dan Askara. Sebelumnya, dia sudah merilis lagu Belahan Jantungku dan Indahnya Dunia. Andien juga mengajak penyanyi pendatang baru Teddy Adhitya sebagai pembuka.
Bagi Andien, album ketujuhnya yang diluncurkan Oktober lalu itu merupakan karya yang menjadikan dirinya mandiri dan berdaya. Sebabnya, ia memiliki keleluasaan karena album digarap secara independen dan tidak berada di bawah naungan perusahaan label seperti lima albumnya yang lain. Ia menuturkan segala macam materi album dipersiapkan secara mandiri.
Berdaya
Menurutnya, album ketujuhnya itu merupakan pencapaian yang patut disyukuri karena menjadi tanda kreativitas dirinya sebagai musikus tak henti-hentinya mengalir. Metamorfosa merupakan album independen kedua Andien. Album dengan garapan independen pertamanya ialah Bisikan Hati yang dirilis pada 2000.
"Saya merasa paling berdaya di album ini (Metamorfosa). Selain yang paling personal, inspirasi album Metamorfosa dari keluarga, suami dan anak. Saya punya feeling konser ini hanya permulaan. Saya kepikiran banyak karya lain yang bisa dijadikan dengan tangan dan hati saya sendiri," cetus Andien.
Ia mengakui saat ini merupakan masa-masa sulit bagi musikus untuk mengeluarkan album. Tren yang terjadi ialah kebanyakan penyanyi hanya merilis single. Album yang digarap secara independen memberikan ruang berkarya dan menyanyikan lagu yang dia sukai tanpa harus bergantung batasan dari perusahaan rekaman. Kendati begitu, ia menambahkan dewasa ini merupakan masa-masa yang menyenangkan bagi musikus karena terjadi tren kolaboratif antarseniman lintas bidang untuk memperkaya karya.
Menurutnya, inilah era para pelaku seni untuk berkolaborasi dan berinteraksi dalam karya.
Pada album Metamorfoma, ia menggandeng sejumlah seniman di antaranya gitaris Tohpati, perupa Abenk Alter, dan penyanyi Tulus.
"Sekarang eranya kolaborasi, generasi sinergis," tutur Andien. Menurutnya, era digitalisasi yang terjadi saat ini sejatinya bisa mempermudah para musikus dalam berkarya. Hal itu dirasakan terutama ketika bisa membuat album secara independen yang justru baginya mampu memacu seseorang untuk menjadi lebih kreatif. (H-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved