Panen Raya Padi Diprediksikan tidak Memicu Inflasi Maret

Jes/Fat/Kim/Ire/Ant/X-4
03/3/2015 00:00
Panen Raya Padi Diprediksikan tidak Memicu Inflasi Maret
(MI/CAKSONO)
PENAIKAN harga premium dari Rp6.600 menjadi Rp6.800 dan gas elpiji ukuran 12 kg sebesar Rp5.000 di awal Maret diprediksikan memicu inflasi pada bulan tersebut.

Hal itu dikemukakan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo di Jakarta, kemarin.

Akan tetapi, Sasmito tidak menutup kemungkinan sebaliknya, yakni deflasi pada Maret karena petani telah memasuki masa panen.

Harga beras yang sempat naik selama Februari lalu dipastikan segera turun.

"Kalau demikian, kecil kemungkinan inflasi," kata Sasmito.

Saat menanggapi kemungkinan inflasi Maret, Menko Perekonomian Sofyan Djalil mengakui pemerintah berusaha serius menangani kenaikan harga beras tersebut.

Pada Februari BPS mencatat deflasi sebesar 0,36% yang dipicu penurunan harga kebutuhan pokok seperti cabai merah, bensin, cabai rawit, tarif angkutan dalam kota, daging ayam ras dan telur ayam ras, semen, solar, tomat sayur, cabai hijau, serta bawang merah.

"Deflasi 0,36% ini kedua tertinggi selama 50 tahun terakhir. Sebelumnya terjadi pada Februari 1985 sebesar 0,5%," ujar Sasmito.

Dengan deflasi Februari, lanjut Sasmito, sepanjang Januari-Februari 2015 tercatat deflasi sebesar 0,61%.

Pada Januari juga sempat terjadi deflasi sebesar 0,24%.

Catatan deflasi Februari sebesar 0,36% membuat BI optimistis soal capaian inflasi tahunan di bawah 4%.

Meskipun demikian, BI mewaspadai perbaikan ekonomi AS karena berdampak pada pelemahan rupiah.

BI pun memprediksikan kemungkinan pelemahan ekonomi 'Negeri Tirai Bambu'.

"BI selalu ada di pasar untuk menjaga volatilitas. Tidak perlu dikhawatirkan," ungkap Gubernur BI Agus Martowardojo.

Hanya, ekonom Bank Central Asia David Sumual mengingatkan BI bahwa deflasi 0,36% itu membuka ruang bagi penurunan suku bunga BI.

"Tentu BI mempertimbangkan nilai tukar rupiah yang terus terdepresiasi mencapai sekitar 12.900 per dolar AS dan ada risiko pelarian modal dari investor obligasi karena mereka khawatir keuntungan tergerus kalau rupiah melemah."



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya