Motor Suzuki dari RI Diekspor ke 24 Negara

Insan Akbar Krisnamukti
28/2/2015 00:00
Motor Suzuki dari RI Diekspor ke 24 Negara
Menteri Perdagangan Racmat Gobel (kanan), bersama Menteri Perindustrian Saleh Husin (kiri) mengendarai skutik Suzuki Address saat acara Ekspor Perdana skutik tersebut di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (27/2)(ANTARA/ZABUR KARURU)
PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) memulai ekspor perdana sepeda motor mereka ke-24 negara. Bahkan 'kuda besi' bermerek Suzuki Address itu berhasil menembus ketatnya standar kualitas di 16 negara anggota Uni Eropa.

"Ekspor ini sangat penting bagi perkembangan industri otomotif khususnya sepeda motor di Tanah Air," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin saat melepas ekspor perdana itu di Bekasi, Jawa Barat, kemarin.

Menurutnya, menembus pasar Eropa bukan perkara mudah lantaran ketatnya standar kualitas dan keamanan di 'Benua Biru'. "Kita bersyukur sepeda motor produksi Indonesia bisa menembus standar Eropa itu," ujarnya.

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menambahkan, pemerintah menargetkan ekspor sepeda motor dalam lima tahun bisa mencapai 1 juta unit dari kisaran 100 ribu unit saat ini. "Kalau bisa, ekspornya sampai 2 juta unit," ujarnya.

Saat ini, imbuhnya, produksi kendaraan roda dua nasional 10 juta unit. Nantinya 80% produk untuk pasar dalam negeri dan 20% untuk ekspor. "Saat ini ekspor baru 100 ribu unit. Bisa naik minimal 300% di 2019."

Ia berharap Indonesia mampu menjadi basis industri otomotif, khususnya kendaraan roda dua.

Presiden Direktur PT SMI Shuji Oishi menyatakan ekspor perdana itu berjumlah 30 ribu unit, atau 20% dari proyeksi total produksi sepeda motor Suzuki di 2015. Setelah sepeda motor berkapasitas mesin 110 cc ini, pihaknya menyasar pasar sepeda motor berukuran besar (250 cc ke atas).

"Nanti akan bertambah hingga 200 ribu unit per tahun pada 2019," tuturnya.

Selain ke Eropa, Suzuki Address akan masuk ke pasar Asia dan Oseania mencakup Jepang, Thailand, Filipina, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Australia, dan Selandia Baru.

Angkutan perdesaan
Di sisi lain, Kemenperin dan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menjadi penanggung jawab proyek angkutan perdesaan berbasis mobil nasional. "Akan dikaji oleh dua institusi bagaimana detailnya," kata Saleh.

Menurutnya, pabrikan otomotif nasional Esemka telah mengutarakan minat untuk proyek itu.

"Kalau ada yang ingin masuk, apalagi dengan tingkat komponen lokal tinggi, tentu harus didukung."

Terkait dengan rencana penutupan pabrik PT General Motors Indonesia (GMI) di Bekasi, Jawa Barat, pada Juni 2015, Saleh mengaku belum mendapat laporan resmi.

Menurutnya, produsen dari 'Negeri Paman Sam' itu menutup pabrik lantaran produk mereka, mobil keluarga murah Chevrolet Spin, sudah tidak kompetitif lagi karena kalah bersaing dengan produk sekelas.

"Kami akan cek sekaligus meminta kepastian nasib 500 tenaga kerja kita di pabrik itu," paparnya.

Namun, imbuhnya, GM akan tetap berinvestasi di industri mobil Indonesia lewat perusahaan patungan dengan SAIC Motor Corp dan Wuling Motors (SGMW) Tiongkok.

"Mereka mau bikin pabrik di Bekasi atau Karawang, untuk produksi 150 ribu unit per tahun mobil keluarga (MPV) bermerek Wuling. Mereka akan mulai bangun pabrik di 2016 atau 2017," paparnya.

Diperkirakan, perusahaan patungan itu bakal mengucurkan investasi hingga US$700 juta (Rp9.06 triliun).

"Produksi Spin berakhir 30 Juni. Kami sudah siapkan paket pengakhiran hubungan kerja untuk pegawai sesuai dengan aturan," ujar Direktur Komunikasi Korporat GMI Maria Sidabutar kepada Media Indonesia, kemarin. (Ant/E-4)

insan@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya