Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUM Bulog menargetkan penyerapan gabah/beras sebanyak 3,7 juta ton pada tahun ini. Jumlah tersebut lebih besar dari target 2016 yang sebesar 3,2 juta ton.
Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan pihaknya lebih optimistis mencapai target penyerapan beras tahun ini. Pasalnya, sepanjang 2017 Bulog mendapat penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp2 triliun yang rencananya untuk mengadakan infrastruktur pascapanen.
"Tahun ini kita targetkan pengadaan (penyerapan) beras 3,7 juta ton. Sebanyak 3,2 juta ton untuk PSO (subsidi) dan 500 ribu ton komersial," papar Djarot saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (31/1).
Sementara itu, realisasi penyerapan gabah/beras Bulog dari petani tahun lalu tidak mencapai target atau hanya 2,9 juta ton (92,54%). Realisasi itu naik dari 2015 sebesar 2,6 juta ton yang juga tidak sesuai target 3,2 juta ton.
Djarot meyakini tahun ini pihaknya akan mengadakan infrastruktur-infrastruktur pascapanen, khususnya untuk komoditas padi, jagung, dan kedelai. Dari dana PMN, Bulog rencananya akan membangun mesin penggiling modern atau modern rice miling plant terintegrasi yang bisa menyerap 1 juta ton setara gabah kering panen (GKP) per tahun.
Selain itu, BUMN pangan itu juga akan mengadakan 22 drying centre, 17 mesin penggiling (milling), dan 80 gudang penyimpanan (silo) untuk beras, serta membangun mesin rice to rice dengan kuantum pengadaan beras sebanyak 250 ribu ton per tahun. Mesin itu, kata Djarot, untuk memproses beras sesuai kualitas yang diinginkan.
"Kalau infrastruktur untuk jagung, kita mau adakan 11 unut drying centre dan 64 unit silo dengan kapasitas 192 ribu ton. Kalau untuk kedelai, mau ada penyimpanan gudang 13 unit dengan kapasitas 45 ribu ton di sentra produksi," papar Djarot.
Selain dari PMN, Djarot juga membeberkan bakal menggelontorkan Rp900 miliar untuk investasi gudang, tanah, dan lainnya karena selama ini Bulog tidak punya infrastruktur yang ideal.
"Infrastruktur yang minimal saja kita belum punya dalam jumlah yang cukup. Yang utama padahal infrastruktur pascapanen. Kegagalan petani selama ini banyak yang terbuang karena tidak ada infrastruktur di perdesaan," tukas Djarot. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved