Karakter Kucing, Kriya Rajut, hingga Produk Perawatan Rambut, Tiga IP Lokal yang Lolos Kurasi Creative by Indonesia

Iis Zatnika
27/10/2026 13:44
Karakter Kucing, Kriya Rajut, hingga Produk Perawatan Rambut, Tiga IP Lokal yang Lolos Kurasi Creative by Indonesia
Marco’s Chop Shop, Milioiki, serta Mora & Olfi menjadi tiga kekayaan intelektual (intellectual property) atau IP lokal yang tampil dalam peluncuran Creative by Indonesia di Jakarta, Sabtu (24/10). Ketiganya merepresentasikan keberagaman subsektor ekonomi k(MI/Iis Zatnika)

Marco’s Chop Shop, Milioiki, serta Mora & Olfi menjadi tiga kekayaan intelektual (intellectual property) atau IP lokal yang tampil dalam peluncuran Creative by Indonesia di Jakarta, Sabtu (24/10). Ketiganya merepresentasikan keberagaman subsektor ekonomi kreatif Indonesia, mulai dari jasa gaya hidup, kriya fesyen, hingga animasi dan komik digital.

Ketiga IP tersebut hadir dalam rangkaian puncak peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional (HEKRAFNAS) 2026 yang dihadiri Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya. Marco’s Chop Shop, Milioiki, serta Mora & Olfi menjadi bagian dari jenama lokal yang mewakili subsektor ekonomi kreatif dalam Creative by Indonesia. Jenama-jenama hasil kurasi itu akan mendapatkan berbagai dukungan untuk meningkatkan daya saing di pasar nasional maupun global.

Marco’s Chop Shop mengusung konsep layanan pangkas rambut premium yang mengutamakan kualitas, ketelitian, dan pengalaman personal. Tidak sekadar menawarkan potongan rambut, jenama ini menghadirkan layanan perawatan diri yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pria modern.

Sementara itu, Milioiki merupakan jenama kriya fesyen lokal yang berfokus pada tas dan aksesori rajut buatan tangan. Beroperasi di bawah studio d'schön & Milioiki atau Schon Craft Indonesia, jenama ini mengembangkan produk fesyen edisi terbatas dengan pendekatan *slow fashion*.

Koleksi Milioiki antara lain mencakup Schmetté Bag, Rosé Sling Bag, Denia, dan Cerréa. Produk-produknya mengandalkan detail rajutan tangan menggunakan benang poliester yang dipadukan dengan tali berbahan kulit sapi asli. Selain tas, Milioiki juga memproduksi aksesori kulit, termasuk suvenir korporasi dan tali identitas.

Sedangkan Mora & Olfi menghadirkan kekayaan intelektual orisinal Indonesia melalui komik strip komedi dan animasi pendek yang mengangkat kehidupan sehari-hari. Karakter utamanya adalah Mora, seekor kucing oranye dengan tingkah laku kacau dan usil, serta Olfi, manusia yang menjadi pendampingnya.

Mora & Olfi mengembangkan karakter dan cerita melalui ilustrasi digital, animasi, serta produk turunan seperti washi tape, tali identitas, gantungan kunci, dan kemeja bermotif. Jenama ini juga aktif menjangkau audiens melalui media sosial dan berpartisipasi dalam berbagai pasar kreatif serta acara pop-up di Jakarta.

Ketiga IP tersebut menunjukkan bagaimana kreativitas dapat dikembangkan menjadi identitas dan produk yang memiliki karakter tersendiri. Pengembangan usaha tidak hanya bertumpu pada produk fisik, tetapi juga pada pengalaman konsumen, desain, cerita, dan karakter yang dapat memperkuat daya tarik jenama.

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan Creative by Indonesia merupakan strategi yang dapat dimanfaatkan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, asosiasi, komunitas, dan pelaku industri. Pelaksanaannya berfokus pada kurasi produk unggulan, penguatan identitas merek, serta promosi silang antarsubsektor.

“Creative by Indonesia bukan hanya program kementerian, tetapi gerakan yang bisa digunakan seluruh pihak. Kita ingin bersama-sama mencari dan mengkurasi jenama lokal dari 21 subsektor ekonomi kreatif untuk didorong naik kelas. Jenama lokal harus menjadi tuan rumah di negeri sendiri sekaligus memiliki kesempatan untuk masuk ke pasar global,” ujar Teuku Riefky.

Melalui semangat *Local Heroes Go National, National Champions Go Global*, strategi tersebut diarahkan untuk memperluas jangkauan pasar produk kreatif daerah tanpa menghilangkan karakter dan kekhasan budayanya.

Teuku Riefky mengatakan kekayaan budaya dan keragaman talenta Indonesia perlu ditransformasikan menjadi produk bernilai ekonomi tinggi serta didukung perlindungan kekayaan intelektual yang kuat. Identitas kolektif diharapkan membuat karya kreatif Indonesia lebih mudah dikenali di pasar global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pencipta dan pemilik nilai dalam industri kreatif.

"Indonesia tidak ingin hanya dikenal karena kekayaan budaya dan besarnya potensi kreatif. Indonesia harus mampu menciptakan tren, membangun merek, serta mengembangkan kekayaan intelektual sendiri. Setiap karya perlu mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas sehingga kreativitas bangsa benar-benar menghasilkan nilai ekonomi," kataTeuku Riefky.

Sebanyak 21 subsektor ekonomi kreatif meliputi kuliner, fesyen, kriya, seni rupa, seni pertunjukan, arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, modifikasi otomotif, pengembang permainan, aplikasi, konten digital, teknologi baru, sulih suara, film, animasi dan video, musik, fotografi, televisi dan radio, penerbitan, serta periklanan. (X-6)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Iis Zatnika
Berita Lainnya