Realisasi Investasi Triwulan I 2026 Masih Banyak Catatan, Ini Penjelasan Ekonom

Ihfa Firdausya
23/4/2026 18:54
Realisasi Investasi Triwulan I 2026 Masih Banyak Catatan, Ini Penjelasan Ekonom
ilustrasi.(MI)

EKONOM Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet memandang capaian realisasi investasi pada triwulan I 2026 terlihat solid secara angka. Pada periode ini, Indonesia berhasil mencatat realisasi Rp498,8 triliun atau tumbuh 7,2% year-on-year.

Yusuf juga melihat komposisi penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) juga relatif seimbang. Begitu juga distribusi Jawa dan luar Jawa. Penyerapan tenaga kerja yang naik hampir 19% juga dinilai memberi kesan bahwa investasi masih berjalan cukup baik.

Namun, katanya, bila ditarik sedikit ke belakang, ada beberapa catatan penting. Pertama, Yusuf menyebut laju pertumbuhan 7,2% ini sebenarnya lebih rendah dibanding tren beberapa tahun terakhir.

"Artinya, di tengah target yang dinaikkan cukup tinggi, akselerasi investasinya justru belum terlihat. Bahkan secara kuartalan, kenaikannya sangat tipis, yang memberi sinyal bahwa momentum mulai melambat," ujar Yusuf saat dihubungi, Kamis (23/4).

Kedua, dari sisi komposisi sektor, investasi masih didominasi oleh industri berbasis sumber daya alam dan aktivitas yang berorientasi domestik. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa transformasi menuju investasi berbasis teknologi atau manufaktur bernilai tambah tinggi masih terbatas. "Jadi secara struktur, pola lama masih cukup dominan," ungkapnya.

Ketiga, dilihat dari rasio investasi terhadap penyerapan tenaga kerja, investasi yang masuk terlihat semakin padat modal. "Ini tidak salah dalam konteks industrialisasi, tetapi menjadi tantangan tersendiri karena kemampuan menyerap tenaga kerja menjadi relatif terbatas dibanding kebutuhan angkatan kerja baru," jelas Yusuf.

Keempat, struktur asal investasi asing juga dinilai perlu dibaca secara hati-hati. Dominasi negara seperti Singapura dan Hong Kong dianggap sering kali mencerminkan peran mereka sebagai hub atau conduit, bukan sumber modal akhir. "Ini berarti secara efektif ada konsentrasi yang cukup tinggi pada sumber investor tertentu, yang membawa implikasi risiko jika terjadi perubahan dinamika global atau geopolitik," jelasnya.

Kelima, dalam konteks hilirisasi, dominasi investasi asing masih sangat kuat. Hal tersebut, katanya, menunjukkan bahwa proses hilirisasi memang berjalan, tetapi sebagian besar didorong oleh modal eksternal.

"Dari sisi pembangunan, ini positif untuk akselerasi, tetapi menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana nilai tambah dan kontrol strategis berada di dalam negeri. Kalau kita bicara apakah capaian ini sudah cukup untuk mencapai target tahunan, secara matematis memang masih dalam jalur," ujar Yusuf.

Namun secara realistis, kata dia, tantangannya cukup besar. Sisa tahun ini menuntut realisasi yang lebih tinggi dari pola historis, sementara tekanan eksternal dan domestik justru meningkat, mulai dari pelemahan rupiah, ketidakpastian global, hingga transisi kebijakan insentif.

Karena itu, menurut Yusuf, fokus ke depan tidak bisa hanya pada menjaga momentum angka, tetapi juga memperbaiki kualitas investasi. Diversifikasi sumber investasi menjadi penting untuk mengurangi konsentrasi risiko.

"Di saat yang sama, indikator keberhasilan perlu diperluas—tidak hanya nilai investasi, tetapi juga dampaknya terhadap nilai tambah, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja. Selain itu, reformasi perizinan dan kepastian kebijakan harus benar-benar terasa di lapangan. Tanpa perbaikan yang konkret, investor cenderung menahan keputusan, terutama dalam situasi global yang tidak pasti," pungkasnya.

Seperti diberitakan, realisasi investasi triwulan I 2026 mencapai Rp498,8 triliun. Capaian tersebut meningkat 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year) sebesar Rp465,2 triliun. Realisasi triwulan I 2026 ini setara dengan 24,4% dari target investasi tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun.

"Realisasi investasi triwulan I 2026 mampu menyerap tenaga kerja Indonesia sebesar 706.569 atau meningkat 18,9% yoy," kata Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (23/4).

Dari capaian Rp498,8 triliun tersebut, penanaman modal asing (PMA) menyumbang Rp250 trilliun (50,1%) atau meningkat 8,5% yoy. Sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang Rp248,8 triliun (49,9%) atau naik 6,0% yoy.

Lima negara asal PMA pada periode ini adalah Singapura sebesar US$4,6 miliar, Hong Kong, RRT US$2,7 miliar, Tiongkok US$2,2 miliar, Amerika Serikat US$1,3 miliar, dan Jepang US$1,0 miliar.

Adapun 5 besar lokasi realisasi investasi adalah Jakarta Rp78,7 triliun (15,8%), Jawa Barat Rp76,8 triliun (15,4%), Banten Rp34,4 triliun (6,9%), Jawa Timur Rp32,6 triliun (6,5%), dan Sulawesi Tengah Rp32,1 triliun (6,4%).

Dilihat dari subsektor, industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya menempati urutan teratas penyumbang investasi triwulan I 2026 sebesar Rp69,4 triliun atau 13,9%. Lalu diikuti jasa lainnya Rp64,2 triliun (12,9%); pertambangan Rp51,9 triliun (10,4%); perumahan, kawasan industri dan perkantoran Rp48,0 triliun (9,6%); serta transportasi, gudang dan telekomunikasi Rp45,4 triliun (9,1%). (Ifa/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya