Rangkul Kelas Menengah ke Bawah

MI/Tesa Oktiana Surbakti
27/2/2015 00:00
Rangkul Kelas Menengah ke Bawah
(MI/ADAM DWI)
KESADARAN masyarakat kelas menengah ke bawah untuk berasuransi terus didorong. Salah satunya dilakukan Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia yang tengah mengembangkan asuransi syariah berpremi rendah.

Asuransi mikro syariah menyasar masyarakat yang berpendapatan rendah, tak lebih dari Rp2,5 juta per bulan. Keniscayaan sasaran itu didasarkan data statistik yang menyebutkan sekitar 77 juta jiwa penduduk Indonesia tidak memiliki tabungan potensial untuk diandalkan.

Bagaimanapun, perlindungan atas risiko keuangan yang diakibatkan suatu musibah seperti sakit, kecelakaan, dan bencana alam penting untuk dimiliki. "Itu sebabnya asuransi berpremi rendah seperti konsep asuransi mikro syariah harus didorong," papar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perbankan dan Finansial Rosan P Roslani dalam focus group discussion (FGD) yang diselenggarakan di Menara Kadin, Jakarta, kemarin.

Sesuai grand design asuransi mikro Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menguraikan asuransi mikro Indonesia ialah produk asuransi yang diperuntukkan masyarakat berpenghasilan rendah. Fitur dan proses administrasinya tergolong ekonomis, mudah didapat, dan sederhana dalam penyelesaian berikut pembayaran manfaat asuransi.

Terkait dengan hal itu, OJK sendiri sudah menetapkan premi asuransi mikro syariah sebesar Rp50 ribu dengan sistem cara pembayaran per bulan, triwulan, semester, dan tahunan.

Sejumlah perusahaan asuransi di Indonesia memang telah memiliki produk murah. Namun, menurut Rosan, pendistribusiannya dinilai kurang gencar di tengah kalangan masyarakat menengah ke bawah.

Berdasarkan data yang dihimpun dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan aset asuransi mikro syariah sebesar 27% didominasi masyarakat kalangan menengah ke atas.

Oleh sebab itu, pengembangan asuransi mikro syariah perlu didorong agar semakin banyak masyarakat kelas menengah ke bawah yang mengetahui informasi tersebut dan kemudian tergerak untuk menjadi nasabah.

"Semoga tahun ini pertumbuhan aset asuransi mikro syariah bisa mencapai minimal 49%. Sebenarnya ada target potensial lebih dari 100 juta penduduk kelas menengah ke bawah yang bisa dibidik. Cuma di sini perusahaan asuransi harus bisa kreatif mengemas produk," ungkap dia.

Hingga 2014, jumlah peserta asuransi mikro syariah tercatat sebanyak lebih dari 6 juta jiwa. Nasabah asuransi itu tersebar di 53 perusahaan asuransi.

Formula tepat
Direktur Lingkungan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muchlasin menyadari masyarakat perlu diberi edukasi ihwal asuransi mikro syariah agar lebih populer lewat sejumlah pameran produk asuransi mikro hingga ke daerah.

Saat ini, beberapa produk standar asuransi mikro yang sudah berjalan, yakni si Peci, Warisanku, Rumahku, Stop Usaha Gempa Bumi, Stop Usaha Erupsi, dan si Bijak.

"OJK siap untuk membantu melakukan sosialisasi. Dari pengamatan kami, kelas menengah ke bawah sendiri banyak yang belum paham, bahkan belum tahu apa itu asuransi syariah mikro. Makanya agar pergerakan informasi meluas, kami juga mencari calon mitra distribusi," Muchlasin menambahkan.

Sebagai informasi, distribusi asuransi mikro mayoritas disalurkan melalui pihak ketiga, seperti koperasi, pegadaian, kantor pos, kelompok mitra, dan bank pembangunan daerah (BPD).

Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Adi Pramana menuturkan tantangan pengembangan asuransi syariah juga dipengaruhi minimnya unit syariah atau perusahaan asuransi yang memasarkan jenis asuransi berpremi murah itu.

Para pengusaha, lanjut dia, juga tengah memikirkan formulasi yang tepat dalam hal sosialisasi untuk merengkuh nasabah yang tidak sekadar tergiur soal premi rendah, tetapi memahami manfaat yang diperoleh kemudian dan bagaimana tata cara klaimnya.

"Bukannya mendiskreditkan, tapi kalau kalangan menengah ke bawah itu kan seringnya hanya berpikir premi rendah, tapi kurang mau tahu bagaimana sistem klaimnya dan manfaatnya. Nah, itu tugas kami untuk mempermudah pemahaman," kata Adi.

Secara rinci, ia memaparkan target utama asuransi syariah tertuju pada masyarakat perdesaan, masyarakat perkotaan berpenghasilan rendah seperti buruh tani, nelayan, buruh pabrik, pembantu rumah tangga, pramuniaga, hingga pedagang kecil.

Masyarakat pada segmen demikian, sambung Adi, terbilang memiliki keterbatasan akses terhadap produk asuransi. Sejauh ini, berdasarkan survei yang dilakukan, kontribusi besaran premi yang masih bisa ditanggung kelas menengah ke bawah, berkisar antara Rp5 ribu dan Rp1 juta. (S-4)

tesa@mediaindonesia.com



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya