Produktivitas Gula Nasional Rendah, Ini Penyebabnya

M Ilham Ramadhan Avisena
18/4/2026 12:13
Produktivitas Gula Nasional Rendah, Ini Penyebabnya
ilustrasi(Antara)

Pemerintah terus mengakselerasi berbagai langkah menuju target swasembada gula konsumsi pada 2028. Untuk tahun 2026, Kementerian Pertanian menargetkan produksi gula konsumsi mencapai 3 juta ton. Dalam upaya itu, holding pangan ID Food bersama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) melakukan konsolidasi industri dengan mengintegrasikan 36 pabrik gula yang tersebar dari Sumatra hingga Sulawesi.

Strategi yang ditempuh bertumpu pada perluasan areal tanam serta peningkatan produktivitas. Program hilirisasi perkebunan, termasuk peremajaan tanaman tebu (bongkar ratoon) dan pembukaan lahan baru seluas 200 ribu hektare pada 2025-2026, terus didorong meski implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai kendala.

Kebijakan tersebut diperkuat melalui Perpres Nomor 40 Tahun 2023 tentang percepatan swasembada gula dan pengembangan bioetanol, serta pengenalan varietas tebu unggul berproduktivitas tinggi. Dari sisi tata niaga, pemerintah menetapkan harga acuan Rp14.500 per kilogram di tingkat produsen dan Rp17.500 per kilogram di tingkat konsumen untuk menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keterjangkauan harga.

Namun demikian, persoalan mendasar masih menjadi hambatan. Produktivitas tebu nasional tergolong rendah, dengan rata-rata produksi gula hanya sekitar 4,74 ton per hektare, jauh di bawah capaian optimal. Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Kementerian Pertanian, Kuntoro Boga Andri, menyebut sejumlah faktor penyebab, mulai dari usia tanaman yang sudah tua, keterbatasan bibit unggul, praktik budidaya yang belum maksimal, hingga minimnya infrastruktur irigasi dan akses pembiayaan.

Permasalahan juga terjadi di sektor hilir. Banyak pabrik gula berusia tua dengan tingkat rendemen rendah, sehingga meskipun revitalisasi terus dilakukan melalui dukungan modal negara, peningkatan kinerja belum signifikan tanpa pasokan tebu berkualitas.

Sebelumnya, Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, mengakui kualitas gula produksi BUMN pangan masih belum optimal akibat kondisi pabrik yang sudah uzur. Hal ini turut diamini oleh akademisi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yuvensius Sri Susilo.

"Saya sependapat dengan hal tersebut. Hal tersebut terjadi karena faktor pabrik gula mesinnya sudah tua, sehingga kualitas produk gula tidak optimal juga berwarna putih kusam atau kuning. Di sisi lain, gula pabrik swasta warna lebih putih," jelasnya.

Menurut Sri Susilo, solusi yang perlu ditempuh meliputi modernisasi pabrik gula, penguatan budidaya tebu, serta restrukturisasi manajemen industri.

"Hal itu perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi produksi yang dapat mendorong Swasembada Gula," tuturnya. 

Pengamat pertanian dari IPB, Purwono MS, menambahkan bahwa kerugian yang dialami Sugar Co lebih dipengaruhi oleh perbedaan efisiensi antar pabrik yang menyebabkan tingginya biaya pengolahan, ditambah skema bagi hasil 70 persen untuk petani.

"Untuk swasembada Gula Kristal Putih relatif lebih pasti karena areal pertanaman dan pabrik gulanya sudah ada. Tapi untuk swasembada Gula Kristal Rafinasi belum ada roadmap yang jelas. Rencana pembangunan pabrik gula dan kebun belum ada yang jadi," ungkapnya. 

Di sisi lain, kewajiban pabrik gula rafinasi untuk menanam tebu juga menghadapi sejumlah hambatan. Wakil Menteri Perdagangan Faisol Riza mengungkapkan terdapat tiga kendala utama, yakni aspek produksi, ketersediaan lahan, dan logistik.

Dari sisi produksi, pabrik rafinasi yang dibangun sebelum regulasi baru pada dasarnya hanya dirancang untuk memurnikan gula mentah, sehingga perubahan bahan baku ke tebu membutuhkan investasi tambahan.

"Perubahan bahan baku dari gula kristal mentah ke tebu membutuhkan investasi baru, termasuk pembangunan fasilitas pengolahan tebu serta penyesuaian lini produksi yang selama ini tidak dipersiapkan untuk operasi berbasis tebu," jelas Faisol.

Selain itu, keterbatasan lahan menjadi kendala karena sebagian besar pabrik rafinasi berada di kawasan dekat pelabuhan seperti di Banten, sementara lahan tebu di wilayah tersebut terbatas. Tantangan lain muncul dari aspek logistik, di mana jarak antara kebun dan pabrik berpotensi memengaruhi kualitas tebu.

"Dari aspek logistik, tebu harus segera digiling untuk menjaga rendemen tetap optimal," pungkasnya.

Berbagai tantangan tersebut menunjukkan bahwa upaya mencapai swasembada gula tidak hanya membutuhkan kebijakan ekspansi, tetapi juga pembenahan menyeluruh dari hulu hingga hilir agar produktivitas dan efisiensi industri dapat meningkat secara berkelanjutan. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya