Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp17.189 akibat Outlook Negatif S&P

 Gana Buana
17/4/2026 17:53
Nilai Tukar Rupiah Melemah ke Rp17.189 akibat Outlook Negatif S&P
Nilai tukar rupiah, Jumat 17 April 2026.(Antara)

Nilai tukar Rupiah tergelincir pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (17/4). Pelemahan ini dipicu oleh sentimen domestik yang tajam setelah lembaga pemeringkat internasional, S&P Global Ratings, memberikan outlook negatif terhadap peringkat obligasi pemerintah Indonesia.

Berdasarkan data pasar, Rupiah merosot 50 poin atau 0,29% ke level Rp17.189 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.139 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mengonfirmasi tren serupa dengan menetap di level Rp17.189 per dolar AS.

Tekanan Fiskal Jadi Pemicu Utama

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menegaskan bahwa koreksi rupiah kali ini murni disebabkan oleh faktor internal. Di saat indeks dolar stabil dan mayoritas mata uang regional menguat, rupiah justru bergerak melawan arus akibat kekhawatiran atas kesehatan fiskal nasional.

“Rupiah pada perdagangan hari ini lebih dipengaruhi oleh tekanan domestik terkait outlook yang negatif dari lembaga rating S&P terhadap peringkat obligasi pemerintah karena tekanan fiskal pemerintah yang besar,” ujar Rully dilansir dari Antara, Jumat (17/4).

S&P Global Ratings dilaporkan menaruh perhatian serius pada rasio pembayaran utang Indonesia. Lembaga tersebut mempertanyakan konsistensi pemerintah dalam menjaga defisit anggaran agar tetap berada di bawah ambang batas aman 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Respons Kemenkeu: Upaya Pengetatan Defisit

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui adanya komunikasi intensif dengan S&P terkait kondisi fiskal. Namun, ia optimistis angka defisit akan menyusut setelah proses audit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selesai.

“Ada peluang defisit APBN Tahun Anggaran 2025 pada Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) menurun dari proyeksi awal. Kami memproyeksikan defisit menyempit ke level 2,8% dari PDB,” jelas Purbaya.

Untuk tahun anggaran 2026, Kemenkeu tengah melakukan langkah agresif melalui restrukturisasi organisasi guna memperkuat pengumpulan pajak serta kepabeanan dan cukai. Langkah ini diharapkan mampu meredam kekhawatiran pasar dan mengembalikan kepercayaan investor terhadap surat utang negara.

Meskipun fundamental eksternal cenderung positif, pasar kini menanti bukti nyata dari pemerintah dalam mengelola beban utang dan menjaga disiplin fiskal demi menstabilkan kembali posisi di pekan mendatang. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya