Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KETIDAKPASTIAN geopolitik yang meningkat dalam beberapa waktu terakhir mendorong volatilitas harga berbagai komoditas strategis, mulai dari energi hingga logam mulia. Di tengah dinamika tersebut, Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya menilai emas kembali menjadi pilihan utama sebagai aset safe haven.
"Emas sekarang saat ini menjadi safe haven di saat kondisi tidak menentu," ujarnya di Jakarta, Rabu (15/4).
Ia menjelaskan, dalam situasi konflik atau eskalasi geopolitik, emas umumnya menjadi instrumen lindung nilai yang diandalkan investor. Bahkan, sejumlah negara meningkatkan cadangan emasnya sebagai langkah antisipatif terhadap ketidakpastian global.
Namun demikian, Yazid menekankan pergerakan harga emas tidak selalu sejalan dengan teori ekonomi. Dalam kondisi tertentu, seperti saat gangguan pada sektor energi, harga emas justru dapat mengalami penurunan.
Menurutnya, hal ini terjadi karena negara-negara produsen emas membutuhkan likuiditas tinggi untuk memenuhi kebutuhan energi. Akibatnya, sebagian cadangan emas dijual ke pasar guna memperoleh dana untuk membeli energi, termasuk minyak dengan harga yang lebih mahal.
"Banyak emas dijual di market. Untuk apa? Untuk membeli energi. Jadi, harga emas sempat turun," tuturnya.
Seiring meningkatnya ketegangan global, peran perdagangan berjangka juga semakin menguat sebagai bagian dari infrastruktur pasar yang mendukung pembentukan harga yang efisien serta memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor.
"Perdagangan berjangka hadir sebagai instrumen yang transparan, terstandarisasi, dan mendukung pembentukan harga yang kredibel di pasar,” ujar Yazid.
JFX pun terus mendorong penguatan ekosistem perdagangan yang lebih transparan, terawasi, serta memberikan perlindungan yang lebih baik bagi seluruh pelaku pasar. Hal ini mencakup pengembangan berbagai mekanisme transaksi, mulai dari over the counter (OTC), pasar fisik komoditas, hingga perdagangan emas dalam bentuk fisik maupun digital yang memiliki underlying aset nyata.
Dari sisi kinerja, sejumlah produk unggulan JFX menunjukkan kontribusi signifikan. Pada sektor komoditas fisik, JFX menguasai lebih dari 95% pangsa pasar ekspor timah Indonesia, dengan nilai transaksi mencapai sekitar USD 1,7 miliar pada 2025.
Sementara itu, pada perdagangan derivatif, kontrak olein (OLE01) mencatat kontribusi sebesar 38,7% dari total volume transaksi Exchange Traded Derivatives (ETD) JFX atau setara dengan 615.028 lot. Di sisi lain, kontrak Loco Gold juga mendominasi aktivitas transaksi OTC dengan porsi mencapai 85,2% dari total volume.
Selain komoditas, JFX juga menghadirkan produk berbasis efek global melalui skema PALN yang mencakup perdagangan saham dan ETF Amerika Serikat. Produk ini menjadi bagian dari diversifikasi instrumen yang tersedia di JFX, dengan tren transaksi yang terus menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir.
Lebih lanjut, JFX turut mengembangkan perdagangan emas digital yang menggabungkan kemudahan transaksi berbasis digital dengan kepastian underlying emas fisik, sehingga memberikan keseimbangan antara aksesibilitas dan keamanan bagi investor di tengah ketidakpastian pasar global. (E-4)
Risiko geopolitik global dan instabilitas yang terjadi di Timur Tengah menyebakan harga komoditas yang dianggap sebagai safe haven seperti emas meningkat tajam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved