Kontribusi Freeport ke Negara Tembus Rp187 Triliun dalam Lima Tahun

Media Indonesia
13/4/2026 23:13
Kontribusi Freeport ke Negara Tembus Rp187 Triliun dalam Lima Tahun
Pekerja berjalan di lokasi Smelter PT Freeport Indonesia (PTFI), Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik, Jawa Timur, beberapa waktu lalu.(Antara/Rizal Hanafi)

PT Freeport Indonesia (PTFI) terus memperkokoh posisinya sebagai pilar utama penerimaan negara. Perusahaan tambang tembaga dan emas di bawah naungan holding industri pertambangan Indonesia, Mind Id, ini mencatatkan kontribusi masif yang melampaui nilai operasional perusahaan semata.

Berdasarkan laporan keuangan periode 2021-2025, total kontribusi PTFI kepada pemerintah Indonesia melalui dividen dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai US$11,04 miliar. Jika dikonversi menggunakan kurs Rp17.000 per dolar AS, angka tersebut menyentuh Rp187 triliun.

Secara rinci, kontribusi tersebut didominasi oleh setoran dividen sebesar US$8,96 miliar, sementara sektor PNBP menyumbang sebesar US$2,08 miliar.

Rincian Kontribusi PTFI (2021-2025):
Tahun Dividen (US$) PNBP (US$)
2021 234 Juta 1,5 Miliar
2022 3,075 Miliar 145 Juta
2023 708 Juta 140 Juta
2024 2,95 Miliar 183,8 Juta
2025 2,0 Miliar 112,4 Juta

Analisis Strategis dan Dampak Ekonomi

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Rizal Taufikurahman, menilai bahwa capaian ini mencerminkan peran vital sektor pertambangan yang dikelola negara. Menurutnya, PTFI berhasil memanfaatkan momentum siklus harga komoditas global untuk memaksimalkan penerimaan domestik.

"Kontribusi PTFI sangat signifikan dan menjadi penopang penting penerimaan negara, terutama saat terjadi commodity boom. Ini membuktikan kapasitas perusahaan dalam menghasilkan nilai ekonomi yang nyata bagi bangsa," ujar Rizal.

Mendorong Hilirisasi dan Kebijakan Fiskal Adaptif

Meskipun angka kontribusi tergolong fantastis, Rizal memberikan catatan mengenai pentingnya keberlanjutan manfaat di masa depan. Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat struktur penerimaan melalui kebijakan hilirisasi yang saat ini tengah digencarkan melalui Mind Id.

"Ke depan, diperlukan skema fiskal yang lebih adaptif, seperti mekanisme berbasis windfall profit saat harga komoditas melonjak tinggi. Selain itu, penguatan hilirisasi sangat krusial untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri dan memastikan transparansi pengelolaan," tambahnya.

Dengan langkah strategis tersebut, kontribusi besar dari pelaku usaha seperti PTFI diharapkan tidak hanya berhenti pada angka di laporan keuangan, tetapi mampu mengakselerasi transformasi ekonomi nasional secara menyeluruh. (Ant/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya