Harga Avtur Melonjak 70 Persen, Industri Logistik Udara Terancam Beralih ke Darat dan Laut

Rahmatul Fajri
09/4/2026 17:29
Harga Avtur Melonjak 70 Persen, Industri Logistik Udara Terancam Beralih ke Darat dan Laut
Relawan dan petugas menata barang bantuan berupa tenda, sandang dan pangan yang akan dikirim ke lokasi bencana logsor setibanya di area logistik sementara di Pangkalam Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (9/12/2025)(Susanto/MI)

ASOSIASI Logistik Digital Economy Indonesia (ALDEI) mengungkapkan kekhawatiran terkait lonjakan harga avtur mencapai 70 persen. Kondisi ini memicu kenaikan drastis pada tarif Surat Muatan Udara (SMU) dan menjadi tantangan distribusi barang nasional, terutama di ekosistem ekonomi digital.

Wakil Ketua Umum ALDEI, Jimmi Krismiardhi, menjelaskan kenaikan biaya operasional maskapai kargo tersebut berdampak langsung pada pelaku usaha e-commerce, manufaktur, hingga distributor yang sangat bergantung pada kecepatan pengiriman udara.

“Lonjakan harga avtur ini secara langsung meningkatkan biaya operasional maskapai kargo, yang kemudian diteruskan dalam bentuk kenaikan tarif SMU. Hal ini tentu berdampak pada pelaku usaha, khususnya sektor e-commerce, manufaktur, dan distribusi yang mengandalkan kecepatan pengiriman udara,” ujar Jimmi dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026).

Akibat tingginya tarif pengiriman udara, Jimmi memprediksi akan terjadi pergeseran preferensi moda transportasi secara besar-besaran dari udara ke darat dan laut. Meski dapat menekan biaya, Jimmi mengingatkan adanya konsekuensi berupa waktu pengiriman yang lebih panjang.

Selain itu, perpindahan ini dikhawatirkan akan memicu penumpukan atau bottleneck baru di jalur darat dan laut jika infrastruktur pendukung tidak segera disiapkan.

“Perubahan preferensi moda transportasi merupakan respons alami pasar. Namun, perlu diantisipasi agar tidak menimbulkan bottleneck baru di sektor darat dan laut, terutama dalam hal kapasitas, infrastruktur, dan efisiensi distribusi,” tambahnya.

Menyikapi situasi tersebut, Jimmi mendorong adanya dialog konstruktif antara pelaku usaha dan pemerintah guna menjaga stabilitas logistik nasional. Pihaknya merekomendasikan beberapa langkah strategis, di antaranya optimalisasi multimoda dengan engintegrasikan berbagai moda transportasi untuk menjaga efisiensi. Lalu, digitalisasi logistik dengan memperkuat sistem digital untuk meningkatkan visibilitas dan efisiensi biaya.

Selanjutnya, pihaknya meminta adanya evaluasi kebijakan biaya dengan meninjau kembali komponen biaya logistik, termasuk harga avtur, agar tetap kompetitif. Terakhir, adanya pemberian insentif sebagai upaya mendorong stimulus bagi sektor logistik yang terdampak langsung secara finansial.

Jimmi menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor sangat diperlukan agar tantangan kenaikan harga energi ini bisa menjadi momentum transformasi struktur logistik nasional menjadi lebih adaptif. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya