RI Buka Pintu Kerja Sama Pengembangan EBT

Jajang Sumantri
16/1/2017 10:35
RI Buka Pintu Kerja Sama Pengembangan EBT
(Dirjen EBT dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Rida Mulyana -- MI/M. Irfan)

POTENSI energi baru terbarukan di Indonesia sangat besar. Tidak hanya energi panas bumi (geotermal) yang memiliki potensi listrik hingga 29 gigawatt (Gw), atau sekitar 40% cadangan dunia, potensi listrik tenaga air juga masih mampu menghasilkan hingga 19 Gw.

Sebagai negara kepulauan beriklim tropis, Nusantara juga masih memiliki potensi besar dari energi bahan bakar nabati, sinar matahari, angin dan biomasa.

Sayangnya, dari sekian banyak potensi tersebut baru panas bumi dan air yang sudah berkontribusi terhadap total pasokan listrik di Tanah Air saat ini. Itu pun hanya 6%. Sisanya, masih disumbang bahan bakar minyak (BBM) sebesar 41%, gas alam 24% dan 29% dari batu bara.

"Hitungan keekonomian menjadi penyebab lambatnya pengembangan EBT. Di ajang ini kami mencari best practices dari negara lain serta mengundang investor swasta global masuk ke sektor EBT Indonesia,” ujar Dirjen EBT dan Konservasi Energi Kementerian ESDM Rida Mulyana di sela pertemuan International Renewable Energy Agency (Irena) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Minggu (14/1).

Menurutnya, mahalnya proyek kelistrikan berbasis EBT di Indonesia juga dipengaruhi oleh topografi sebagai negara kepulauan yaang membuat proyek listrik EBT hanya bisa dikembangkan terbatas bila tidak didukung oleh infrastruktur transmisi dan distribusi terpadu.

Hal tersebut sangat mempengaruhi minat investor swasta. Karena itu perlu upaya menekan biaya pengembangan proyek pembangkit listrik EBT dengan menawarkan insentif menarik kepada investor, alih-alih mengimingi mereka dengan skema subsidi.

“Subsidi biasanya menumbuhkan ketergantungan dan menghambat upaya kita untuk mengikuti dinamika global,” urainya.

Pembukaan kerja sama dengan investor swasta global harus dilakukan karena Indonesia memiliki target ambisius untuk mencapai pasokan energi dari EBT hingga 23% di 2025. Di saat itu secara gradual, pemakaian energi fosil terutama minyak bumi dalam bauran energi nasional dipatok hanya 22%, batu bara 30% dan gas bumi di kisaran 25%.

“Kita berharap pengembangan EBT ini mampu didorong oleh pasar, oleh investor swasta dalam dan luar negeri, tentu dengan tetap memberi ruang besar bagi kerja sama antar pemerintah maupun regional,” katanya.

Untuk memastikan itu, rencananya, Menteri ESDM Ignasius Jonan akan bertolak ke Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), pada Senin (16/1) ini bersama Direktur Utama Pertamina Dwi Soetjipto, Direktur Utama PLN Sofyan Basir, serta Direktur Utama PGN Hendi Prio Santoso. (X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya