Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
POTENSI energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia menjadi alternatif untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di kisaran 89% saat ini atau minimal bisa melistriki sekitar 2.500 desa yang saat ini belum teraliri listrik.
Namun, untuk itu pemerintah butuh biaya besar. Untuk tahun ini saja kebutuhan subsidi untuk pengembangan EBT sekitar Rp1,07 triliun.
“Energi baru terbarukan saat ini sudah bukan jadi cadangan lagi, melainkan menjadi mainstream dalam pemenuhan energi di dunia. Untuk pengembangannya kita butuh biaya besar," kata Dirjen EBT dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Rida Mulyana di sela pertemuan International Renewable Energy Agency (Irena) di Abu Dhabi, UEA, Minggu (15/1).
Indonesia sebagai salah satu dari 140 negara anggota Irena juga terus berupaya mengembangkan EBT secara berkesinambungan. "Porsi EBT di Indonesia saat ini 10% dari total penggunaan energi. Lalu ditargetkan menjadi 13% di 2019, dan mencapai 23% di 2025," kaya Rida.
Saat ini kapasitas pembangkit listrik terpasang di Indonesia adalah 55 gigawatt (Gw). Dari jumlah itu, 80% masih menggunakan energi fosil dan sisanya energi terbarukan.
Karena itu, imbuhnya pengembangan EBT dari beragam potensi itu terus dipacu. Tahun ini saja bakal dikembangkan setara 1,66 Gw dari panas bumi dengan 1,5 Gw di antaranya sudah terpasang.
"Kita juga tengah berupaya memasukkan investasi US$49,7 juta untuk panel surya dengan kapasitas setara 28,8 megawatt (Mw). Untuk bioenergi, investasinya butuh US$360 juta,” papar Rida.
Tantangan pengembangan energi terbarukan di Indonesia salah satunya adalah biaya tinggi, karena teknologinya harus diimpor. Kemudian masalah perizinan dan lahan.
Pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, yang ikut hadir dalam pertemuan itu mengatakan, Indonesia perlu ikut urun biaya untuk riset pengembangan teknologi EBT dengan menggandeng produsen atau negara yang memiliki teknologi ini.
"Sehingga kita tidak ketergantungan membeli teknologi dari pihak lain. Bila kita bisa ikut riset pengembangannya, pengembangan energi terbarukan di dalam negeri akan makin murah dan efisien," papar Agus.
Di pertemuan Irena tersebut terkuak, dalam 10 tahun belakang investasi pengembangan energi terbarukan naik pesat. Data terakhir di 2015 tercatat US$305 miliar, naik dari 2014 sebesar US$270 miliar, dan 2013 sebesar US$231 miliar. (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved