Wamenkeu Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Kisaran 5,4 hingga 6 Persen, Ini Alasannya

Ihfa Firdausya
07/4/2026 17:16
Wamenkeu Optimistis Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Kisaran 5,4 hingga 6 Persen, Ini Alasannya
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) bersama Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kanan) dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) foto bersama sebelum memberikan keterangan pada konferensi pers APBN KiTa edisi Februari 2026 di Jakarta, Se(ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/YU)

WAKIL Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung optimistis pertumbuhan ekonomi 2026 sesuai asumsi APBN 2026 yakni di atas 5 persen, bahkan lebih tinggi. Menurutnya, hal itu didukung indikator-indikator yang positif.

"Kita lihat di kuartal 1 dari sisi indikator-indikatornya semua menunjukkan hal yang positif. Belanja fiskalnya positif, pertumbuhan dari belanja itu sekitar 40%. Kemudian penerimaan pajaknya juga year to date itu sampai dengan akhir Maret tumbuhnya 20,7%, di Januari 30%, Februari juga 30% year to date-nya,," kata Juda dalam acara diskusi Outlook Indonesia di Jakarta, Selasa (7/4).

"Sehingga memang defisitnya agak gede dibanding tahun lalu, karena tahun lalu kan belanjanya juga rendah sekali, pajak rendah, sekarang ini (defisit) 0,9%. Jadi kalau kita lihat Q1, sebenarnya kita optimistis, ekonomi kita tumbuh bahkan lebih tinggi dari asumsi APBN 5,4%, paling optimis 6%. Jadi antara itu 5,4% sampai 6%," imbuhnya.

Juda mengungkapkan asumsi itu mencapai target tersebut. Pertama, kata dia, menjaga daya beli masyarakat. Pemerintah tidak menaikkan harga BBM subsidi.

"Yang kedua dari sisi eksternal sebenarnya ada natural hedge, ketika harga minyak naik, harga-harga komoditas ekspor kita, batu bara, CPO, itu mengalami kenaikan. Jadi ada windfall revenue dari sini," ujar Juda.

Kemudian pemerintah tetap menggenjot dari sisi penerimaan, dengan Coretax dan sebagainya. Menurutnya ada indikasi penerimaan negara jauh lebih bagus dibandingkan dengan tahun lalu.

"Dari belanjanya karena belanja subsidinya naik, ini kita kelola supaya belanja yang lain lebih efisien tapi tetap efektif untuk mendorong program-program prioritas. Ada ruang-ruang untuk efisiensi," ungkap Juda.

Hal-hal itulah, lanjutnya, yang pemerintah kelola sehingga secara keseluruhan defisit APBN masih bisa dijaga di bawah 3%, dengan pertumbuhan ekonomi khususnya dari daya beli masyarakat masih bisa terjaga.

"Ekspornya kan positif dari harga-harga komoditas kita. Investasi ya kita harapkan peran Danantara untuk mendorong investasi swasta, sehingga kalau dari konstelasi C, I, X dan juga G-nya yang lebih efisien, pertumbuhan kita tahun 2026 ini kami perkirakan masih di dalam rentang asumsi APBN, 5,4% sampai 6%," tegasnya.

Juda juga tidak memungkiri beban APBN imbas eskalasi harga minyak dunia. Sebagai informasi, dalam asumsi APBN 2026, rata-rata harga minyak dunia yakni US$70 per barel (sekitar Rp1.195.000)

"Sekarang ini rata-rata harga minyak Januari sampai dengan April ini itu US$78. Jadi kalau dibandingkan dengan asumsi APBN enggak jauh-jauh juga," ujarnya.

"Nah kalau memang ini lama kemudian rata-ratanya bisa sampai dengan US$100 itu juga defisit kita masih kita bisa jaga di bawah 3%. Kemarin sudah disampaikan juga oleh Menteri Keuangan di DPR itu masih di atas 2,9%. Saya kira kita bisa mengelola dari penerimaan, dari belanja yang kita atur supaya lebih efisien dan sebagainya sehingga itu masih di bawah 3%," pungkasnya.(H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya