ESDM Dorong Hilirisasi hingga Produk Jadi, Begini Respons Pelaku Industri

Naufal Zuhdi
07/4/2026 16:13
ESDM Dorong Hilirisasi hingga Produk Jadi, Begini Respons Pelaku Industri
ilustrasi.(MI)

PEMERINTAH terus mendorong penguatan hilirisasi sumber daya alam agar tidak berhenti pada produk mentah maupun setengah jadi, melainkan hingga menghasilkan produk akhir bernilai tambah tinggi.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tri Winarno, menegaskan arah industrialisasi Indonesia ke depan adalah mengurangi ekspor bahan mentah dan memperkuat industri hilir di dalam negeri.

“Industrialisasi yang kita harapkan adalah tidak lagi menjual bahan mentah, tetapi menjual produk jadi. Dari komoditas mentah bisa naik menjadi produk akhir dengan nilai tambah lebih tinggi,” kata Tri di acara “Unlocking Growth in the Middle-Income Trap” yang digelar Tutur Media, Selasa (7/4).

Ia mencontohkan, komoditas seperti karet seharusnya tidak lagi dijual dalam bentuk bahan baku, melainkan diolah menjadi produk akhir seperti ban. Dengan demikian, fluktuasi harga komoditas dapat ditekan dan nilai ekonomi yang diperoleh lebih stabil.

Namun demikian, Tri mengakui saat ini Indonesia masih banyak berada pada tahap produk antara (intermediate product) dan belum sepenuhnya mencapai tahap hilir paling akhir.

Menurutnya, kebijakan larangan ekspor bahan mentah yang diatur sejak Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 telah berhasil mendorong pembangunan industri pengolahan di dalam negeri. Ke depan, pemerintah akan melanjutkan strategi tersebut agar industri bergerak lebih dalam hingga menghasilkan produk jadi.

“Industri sudah mulai terbentuk sampai produk antara. Sekarang tantangannya bagaimana mendorong hingga ke produk akhir. Ini yang terus kita upayakan dengan komunikasi intensif bersama pelaku industri,” katanya.

Sementara itu, Ketua Forum Industri Nikel Indonesia, Arif Perdana Kusumah, menilai program hilirisasi nikel Indonesia telah menunjukkan kemajuan signifikan sejak dimulai pada 2014 melalui larangan ekspor bijih nikel.

Ia mengungkapkan, kapasitas pengolahan nikel Indonesia telah meningkat hingga sekitar 1,7 juta ton, sementara produksi mencapai sekitar 2,5 juta ton hingga 2025. Namun, sebagian besar masih berupa produk antara.

“Sekitar 90% produk nikel kita masih diekspor dalam bentuk intermediate. Kemudian diolah di luar negeri dan kembali ke Indonesia dengan harga lebih mahal,” ujarnya.

Arif menegaskan, ke depan Indonesia perlu memperkuat hilirisasi agar tidak hanya berhenti di tahap awal, tetapi mampu menghasilkan produk akhir di dalam negeri.

Ia sejalan dengan pemerintah bahwa langkah tersebut penting untuk memperkuat industrialisasi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah dan daya saing ekonomi.

“Program hilirisasi harus didorong lebih dalam lagi agar kita benar-benar menghasilkan barang jadi di dalam negeri,” pungkasnya. (Fal/P-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya