STOK dan pasokan yang memadai ternyata belum menjamin harga beras yang belakangan melonjak kembali turun dan stabil. Fenomena itu membuat sejumlah kalangan mengkhawatirkan adanya aksi mafia beras.
''Stok aman, tapi kenapa (harga beras) naik,'' ucap Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan alias Aher di Bandung, kemarin.
Aher menjelaskan, sesuai teori ekonomi Adam Smith, kenaikan harga berlangsung jika pasokan kurang dan permintaan meningkat. ''Di Jabar suplai normal, permintaan aman, tetapi harga beras tetap naik. Saya khawatir ada mafia,'' paparnya.
Bukan hanya di Jabar, kenaikan harga beras belakangan terus dilaporkan di hampir seluruh wilayah Tanah Air. Kenaikan harga beras bervariasi pada kisaran 10% hingga 30%
Di Jawa Tengah, Gubernur Gandjar Pranowo pun mencium gelagat tidak beres. Ia curiga adanya gejala ketika di satu sisi harga beras naik cukup tinggi dan merata, di sisi lain harga gabah di level petani justru masih relatif rendah.
Terlepas dari fenomena yang diungkapkan Aher dan Gandjar, Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Adnan Pandu Praja, secara implisit menjelaskan gejala tidak sehat itu berkaitan dengan praktik importasi komoditas pangan strategis, termasuk beras.
Adnan mengatakan KPK menerima sejumlah pengaduan masyarakat terkait anomali tata niaga impor. Dalam importasi beras, kata dia, terdapat kelemahan sistem importasi yang dimanfaatkan pihak tertentu untuk meraih keuntungan dengan cara tidak sehat.
Oleh karena itu, pemerintah, melalui Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, pun menegaskan pihaknya akan memidanakan mafia beras yang membuat harga menjadi tidak stabil. ''Saya sudah berkoordinasi dengan Kapolri dan TNI untuk membantu memberantas mafia beras dan segala praktik pengaturan harga beras.''
Jamin pasokan Selaras dengan upaya untuk memberantas mafia beras, pemerintah telah menyiapkan langkah untuk mengantisipasi gejolak harga beras (lihat grafik). Salah satu yang krusial dikemukakan Presiden Joko Widodo saat bersama sejumlah menteri Kabinet Kerja blusukan di Gudang Bulog Kelapa Gading, Jakarta Utara, kemarin.
Dalam kesempatan itu, Presiden secara tegas menjamin ketersediaan stok beras hingga masa panen tiba. ''Sekarang 1,4 juta ton beras akan disalurkan. Untuk raskin (beras miskin) harus habis kita dorong 300 ribu ton. Dalam operasi pasar, berapa pun yang dibutuhkan akan kita dorong agar beras masuk ke pasar,'' tegas Jokowi.
Ia menambahkan, pemerintah akan memasok beras secara tidak terbatas. ''Pemerintah akan menyuplai berapa pun yang diminta pasar agar tercipta kestabilan harga kembali di masyarakat.''
Kebijakan operasi pasar pun serentak dilakukan sejumlah daerah, termasuk Jabar, Jateng, Jatim, dan Sulsel.
Di Jakarta, pasokan beras dilaporkan sempat menurun. Namun, Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah dan Perdagangan DKI Jakarta Joko Kundaryo memastikan stok di Ibu Kota masih aman hingga 10 hari ke depan.(Tim/X-7)