Peretas Lintas Batas Bikin Rekening Bank Terkuras

Andika Putra/E-4
25/2/2015 00:00
Peretas Lintas Batas Bikin Rekening Bank Terkuras
(THINKSTOCK)
KONEKTIVITAS internet telah memberi kemudahan dan efisiensi bagi aktivitas umat manusia.

Termasuk membantu mereka, para peretas (hacker) untuk menggondol US$1 miliar (Rp12 triliun) dari rekening bank di seluruh dunia.

"Peretas itu telah beraksi sejak akhir 2013 dan menyusup ke lebih dari 100 bank di 30 negara di seluruh dunia," demikian pernyataan firma keamanan siber asal Rusia, Kasperksy Lab, seperti dikutip kantor berita Associated Press, akhir pekan lalu.

Dengan penguasaan teknologi informasi yang mumpuni, para pencoleng itu mampu mengakses komputer perbankan dan berkutat beberapa bulan untuk mempelajari sistem bank sasaran.

Mereka pun tekun mengamati kebiasaan para pegawai, pola kerja, hingga skema pengamanan.

"Setelah memahami sistem operasi perbankan itu, mereka mulai beraksi tanpa menimbulkan kecurigaan. Mereka menarik uang dari anjungan tunai mandiri (ATM) di waktu tertentu atau menyetornya ke dalam beberapa rekening palsu," papar Kepala Peneliti Keamananan Kaspersky, Vicente Diaz.

Supaya tetap terlindungi, mereka pun hanya menarik maksimal US$10 juta (Rp120 miliar) sebelum beranjak meretas bank lain.

Itu membuat mereka sulit terdeteksi sistem keamanan transaksi perbankan dalam waktu singkat.

"Pembobolan itu agak janggal karena rekening induk dari bank yang diincar bukan milik nasabah atau informasi akun mereka." kata Diaz.

Para peretas itu bergerak fleksibel dan agresif dengan alat-alat lengkap.

Perbankan di Rusia, Amerika Serikat, Jerman, Tiongkok, dan Ukraina masih menjadi target utama aksi kriminal mereka.

Namun, seiring terkuaknya aksi mereka, bukan tidak mungkin kawasan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa menjadi sasaran selanjutnya.

"Ada satu kasus pembobolan lewat ATM, bank kehilangan US$7,3 juta (Rp87,6 miliar). Yang lainnya, pengurasan rekening hingga US$10 juta lewat pengacauan sistem daring perbankan."

Namun, Kaspersky menolak mengungkap identitas sejumlah bank yang telah terbobol itu.

Mereka mengaku tengah bekerja sama dengan pihak berwenang untuk menyelidiki aksi kriminal di dunia maya tersebut.

Sebuah lembaga nirlaba, Pusat Layanan Analisis dan Penyebaran Informasi Keuangan (FS-ISAC) telah memperingatkan perbankan sejak Januari 2015.

"Kami melihat pihak perbankan belum cukup bereaksi terhadap kasus ini untuk melindungi nasabah mereka," demikian pernyataan lembaga itu.

Rentetan kasus itu pun cukup untuk memaksa Gedung Putih turun tangan dengan meminta pihak berwenang memperketat keamanan siber untuk seluruh entitas bisnis, tidak hanya perbankan.

Pemerintahan Obama meminta kongres memperbarui undang-undang supaya mewajibkan perusahaan yang dibobol mengabari pelanggan dan nasabah mereka dalam 30 hari.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya