Harga Beras di Tangan Pedagang

Fathia Nurul Haq
23/2/2015 00:00
Harga Beras di Tangan Pedagang
(ANTARA/Arif)
LONJAKAN harga beras hingga 30% di wilayah Jadebotabek diakibatkan lemahnya stabilisasi harga beras. Perum Bulog sebagai lembaga stabilisator harga bahan pangan pokok kalah oleh polah penimbun dan distributor yang mendistorsi harga.

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih mengemukakan itu saat dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Bulog, menurut Henry, kurang bergigi lantaran bergantung pada pasokan beras dari pedagang yang memiliki banyak rekanan, dalam hal ini distributor dan pengecer. "Bulog terkesan dipermainkan oleh mereka karena Bulog tidak punya alat. Hanya mengandalkan pasokan dari petani yang notabene punya banyak rekanan lain," imbuhnya.

Kemarin, Bulog menggelar operasi pasar beras di sejumlah wilayah Jakarta. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel saat meninjau pelaksanaan operasi pasar di Penjaringan menyatakan pemerintah mengubah metode operasi pasar.

Sebelumnya beras yang disalurkan Bulog untuk menekan harga di pasar digelontorkan melalui pedagang, tetapi kali ini langsung dipasarkan ke konsumen. Tujuannya membatasi ruang gerak mafia beras yang diduga mempermainkan harga beras.

Beras yang didistribusikan langsung ke penduduk itu dijual dengan harga Rp7.400/kg. Beras kualitas premium dijual di harga Rp9.000/kg. Harga itu jauh di bawah harga pasaran yang sekitar Rp11.000/kg untuk beras medium dan Rp13.000/kg untuk beras premium.

Rachmat sebelumnya mengungkapkan kecurigaannya tentang adanya praktik mafia beras. Kecurigaan itu menguat lantaran harga beras terus naik. Padahal, Bulog telah membanjiri pedagang dengan 75 ribu ton beras sejak awal tahun. Rachmat juga mengaku menemukan beras oplosan di sejumlah pasar.

Menjalar
Kenaikan harga beras tidak hanya melanda Ibu Kota dan sekitarnya. Fenomena itu juga terjadi di beberapa daerah, termasuk Sragen, Jawa Tengah. Ironisnya, Sragen sedang memasuki periode panen raya hingga sebulan ke depan.

Meski sudah panen raya, harga beras di sana terpatok pada kisaran Rp11.000-Rp11.600/kg, jauh di atas harga normal.

"Sebetulnya kami sedang panen raya di Sragen. Tapi petani cuma bisa mengikuti harga pasar," ujar petani asal Sragen, Paryoto, kemarin.

Paryoto menduga penyebabnya ialah belum meratanya panen raya hingga banyak penadah dari daerah lain yang bersedia membeli hasil panen petani dengan harga tinggi.

"Petani di sini baru petik dari sawah saja sudah ditunggu dengan pikap dari Karawang, Indramayu, dan Banyuwangi. Mereka mau beli dengan harga tinggi. Jadi, petani jual ke mereka semua," jelas Paryoto.

Petani yang menjual hasil panen langsung di Sragen juga akhirnya mengikuti harga pasar. Menurut Paryoto, beras kepala dijual Rp11.000/kg. "Beras kepala sudah mahal sekali, sampai Rp 11.600/kg. Kami tidak punya stok," imbuhnya.

Paryoto tidak yakin harga beras dapat stabil dalam waktu dekat. Sentra beras seperti Indramayu, Karawang, dan Banyuwangi diperkirakan akan memasuki panen raya akhir bulan depan.

"Tapi saat itu beras kami sudah habis dipanen. Jadi, ya, tidak tahu bisa turun atau tidak," ujarnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya