Penurunan Kemiskinan Ekstrem masih Dibayangi Kesenjangan Pendapatan

RO
03/10/2016 14:10
Penurunan Kemiskinan Ekstrem masih Dibayangi Kesenjangan Pendapatan
(MI/Galih Pradipta)

KENDATI perekenomian dunia sedang dilanda kelesuan, kemiskinan ekstrem di dunia terus berkurang. Demikian menurut laporan terbaru Bank Dunia terkait isu kemiskinan dan kesejahteraan bersama.

Akan tetapi, seiring dengan proyeksi tren pertumbuhan, laporan itu juga mengingatkan bahwa pengurangan ketimpangan yang tinggi semakin penting agar target pengentasan kemiskinan ekstrem di 2030 dapat tercapai.

Menurut edisi pertama Laporan Kemiskinan dan Kesejahteraan Bersama (Poverty and Shared Prosperity Report), sekitar 800 juta orang bertahan hanya dengan kurang dari US$1,9 per hari di 2013. Jumlah itu sekitar 100 juta lebih sedikit ketimbang di 2012.

Perbaikan untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan ekstrem lebih banyak didorong oleh kawasan Asia Timur dan Pasifik, terutama Tiongkok, Indonesia, dan India. Setengah dari penduduk miskin ekstrem di dunia berasal dari kawasan Afrika Sub-Sahara dan sepertiga lagi di Asia Selatan.

Di 60 dari 83 negara yang tercakup oleh laporan tersebut, sejak 2008, pendapatan rata-rata rakyat yang hidup di 40% terbawah telah meningkat, walaupun terjadi krisis keuangan di masa itu. Lebih penting lagi, negara-negara ini mewakili 67% dari penduduk dunia.

"Cukup mengesankan bagaimana negara-negara terus mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan walaupun perekonomian dunia kurang mendukung. Namun (harus pula diakui) masih terlalu banyak rakyat bertahan dengan penghasilan terlalu kecil," ujar Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dalam siaran pers, Senin (3/10)

"Kita berisiko tidak mencapai target pengentasan kemiskinan ekstrem di 2030, kecuali dengan kembalinya laju pertumbuhan yang lebih cepat agar mengurangi ketimpangan," imbuhnya.

Yang diperlukan, kata dia, cukup jelas. Untuk menghentikan kemiskinan, lapangan kerja perlu diperluas agar masyarakat termiskin terbantu. "Salah satu cara yang paling meyakinkan ialah pengurangan ketimpangan yang tinggi, terutama di negara-negara yang banyak rakyat miskinnya."

Laporan itu menemukan bahwa di 34 dari 83 negara yang dipantau, kesenjangan pendapatan melebar seiring dengan meningkatnya pendapatan di antara 60% terkaya dibanding mereka yang berada di 40% termiskin. Adapun di anatara 23 negara, penduduk yang merupakan 40% golongan termiskin menurun pendapatannya selama beberapa tahun. (RO/X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya