Gerakan Kewirausahaan Nasional Dimulai di Kulonprogo

MI/Faw
22/2/2015 00:00
Gerakan Kewirausahaan Nasional Dimulai di Kulonprogo
(Istimewa)
Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) untuk menciptakan wirausaha baru di Indonesia mulai didengungkan kembali. Pada tahun ini GKN untuk pertama kali digelar di Kabupaten Kulonprogo, Jogjakarta. Lebih dari 400 orang, selama 3 hari mendapatkan pendidikan dan latihan untuk menjadi calon wirausaha baru di Indonesia. Setelah mendapatkan pelatihan, calon wirausaha baru tersebut akan diseleksi untuk mendapatkan bantuan permodalan sebesar Rp25 juta per orang dan mendapatkan pendampingan untuk pengembangan usahanya.

"Gerakan Kewirausahaan Nasional di Kulonprogo Jogjakarta merupakan yang pertama di seluruh Indonesia," tegas Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan UKM, Prakoso Budi Susetyo, usai membuka GKN di kantor Bupati Kulonprogo, Jogjakarta, Sabtu (21/2/2015). Menurut Prakoso, GKN akan digelar di setiap daerah dan propinsi Indonesia untuk memberikan pelatihan dan pendampingan bagi calon-calon wirausaha, dan naik kelas dari pelaku usaha mikro ke kecil. "Mereka rata-rata telah memiliki usaha. Didorong, dilatih dan pendampingan untuk naik kelas, mikro ke kecil," katanya. Ia mengaku kelemahan GKN selama ini adalah kurangnya pendampingan, sehingga banyak calon-calon wirausaha tidak berhasil dalam menjalankan sektor usaha. Untuk itu, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah mengalokasikan dana dekon untuk pendampingan sebesar Rp100 milyar.

"Kelemahan yang lalu, tidak ada pendampingan. Kita anggarkan dana dekon pendampingan Rp100 milyar seindonesia," katanya Dana dekon tersebut akan didistribusikan ke pemerintah daerah di Indonesia, untuk menentukan pendampingan wirausaha, sesuai dengan potensi daerah masing-masing," ujar Prakoso Ia mentargetkan secara nasional sebesar 2 persen dari total jumlah penduduk Indonesia menjadi wirausaha. Selain itu juga mereka bisa naik kelas dari pelaku usaha mikro menjadi kecil. "Kita targetkan 2 persen. Wirausaha yang mikro naik kelas menjadi kecil," ujarnya.

GKN akan menggali dan mengembangkan potensi daerah, melalui inovasi produk agar bisa bersaing dengan pasar Internasional. Sementara itu, Wakil Bupati Kulonprogo, Jogjakarta, Sutedjo menjelaskan, GKN di Kulonprogo dilakukan dengan melakukan pendidikan dan pelatihan 5 jenis, yaitu pengolahan ikan, pengolahan buah rambutan salak, melon, menjadi sari buah, pelatihan tenun, konveksi dan menjahit tradisional. "Kulonprogo penghasilan buah yang banyak, namun ketika panen harga jatuh, sehingga harus dikembangkan untuk inovasi produk," katanya. Ia berharap masyarakat Kulonprogo memiliki sumber daya manusia yang handal, terlebih menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya