Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
JIKA Anda berpikir pembalap yang kerap menantang kecepatan atau astronaut yang hidup melawan grafitasi di angkasa luar merupakan profesi paling membahayakan, Anda salah.
Careercast, sebuah situs pencari kerja di wilayah Benua Amerika bagian utara, mengumumkan pengemudi, petani, dan pekerja konstruksi merupakan tiga profesi teratas yang memiliki potensi kecelakaan paling berbahaya.
"Kecelakaan lalu lintas merupakan salah satu penyebab kematian yang paling utama dalam lingkungan kerja," ujar editor konten daring Careercast.com Kyle Kensing, Kamis (11/8).
Kecelakaan kerja juga kerap menimpa para petani dan pekerja konstruksi yang memang tidak dibekali dengan sistem pengamanan yang mumpuni.
"Itu membuat mereka sangat rentan mengalami kecelakaan," tutur Kensing.
Selain tiga profesi yang sudah disebutkan, Kensing menambahkan profesi yang berhubungan dengan keamanan, seperti polisi dan pemadam kebakaran, untuk melengkapi daftar lima posisi teratas.
Kendati demikian, ungkap Kensing, semua pekerjaan itu tidak pernah kekurangan peminat.
"Semua pekerjaan itu memberikan dampak positif kepada kehidupan sosial. Mereka paham akan risiko yang dihadapi," lanjutnya.
"Bagi mereka yang memilih jalan karier itu, mungkin duduk di depan komputer ialah hal yang sangat tidak mengasyikkan."
Dalam melakukan penelitian, Careercast menggunakan data yang telah mereka kumpulkan dan digabungkan dengan data statistik pemerintah, US Bureau of Labor Statistics.
"Sangat mengejutkan mengetahui profesi-profesi yang paling berbahaya ternyata kita jumpai setiap hari, di tempat-tempat yang juga tidak asing," sambung Kensing.
Di sisi lain, orang-orang yang berkarier di bidang teknologi informasi menjadi orang-orang yang sangat jauh dari bahaya.
"Selain itu, profesi akuntan dan ahli statistik juga masuk ke daftar aman lainnya," tambah editor itu.
Kensing juga mengungkapkan data yang telah dipublikasikan itu akan terus dilengkapi dengan faktor-faktor lain, seperti masalah kesehatan para pekerja.
Untuk pekerja kantoran, contohnya, Kensing mengatakan saat ini pihaknya belum memiliki banyak data terkait dengan isu kesehatan mereka.
"Mungkin saja terlalu banyak duduk juga dapat berbahaya dan memicu kematian," imbuhnya.
Ia mengatakan, dalam penelitian lanjutan yang akan dilaksanakan nanti, faktor yang lebih kompleks, seperti aktivitas fisik yang minim, perjalanan, kebisingan, serta polusi udara akan dilibatkan sebagai penentu-penentu lainnya.
"Kita akan tampung semua kemungkinan."
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved