Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PASAR bersama ASEAN menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri otomotif Indonesia untuk meningkatkan penjualan.
Pendapat ini disampaikan Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara kepada Media Indonesia di Jakarta, akhir pekan lalu.
Kukuh mengemukakan keunggulan industri otomotif Indonesia menyongsong era perdagangan bebas di kawasan ASEAN. Dari basis produksi, kapasitas industri otomotif mencapai 2,1 juta unit per tahun. Sedangkan saat ini produksi kendaraan baru sekitar 1,2 juta unit.
"Ada iddle capacity. Untuk memperbesar pangsa pasar kita harus bisa memaksimalkan iddle capacity tersebut. Pada dasarnya produk kita sudah mengglobal. Tetapi kan banyak faktor jika kita ingin meningkatkan produksi," kata Kukuh.
Karena itu, lanjut Kukuh, dalam menghadapi pasar ASEAN industri otomotif mau tidak mau dituntut meningkatkan kualitas, menekan ongkos produksi dan biaya logistik, mengembangkan kualitas sumber daya manusia serta menjaga ketepatan waktu pengiriman.
"Industri otomotif sudah melakukan semua itu. Harga yang kompetitif itu terkait persoalan research and development. Sedangkan biaya logistik dan ketepatan waktu kirim tergantung keandalan infrastruktur seperti pelabuhan dan jalan raya," ujar Kukuh.
Berdasarkan data ASEAN Automotive Federation, penjualan kendaraan di kawasan regional pada 2015 mencapai 3,07 juta unit. Indonesia berada di peringkat teratas dengan jumlah 1,13 juta unit diikuti Thailand 881.832 unit, Malaysia 666.487 unit, Filipina 234.747 unit, Vietnam 133.588 unit, Singapura 47.443 unit dan Brunei 18.114 unit.
"Pada tahun ini penjualan kendaraan di Indonesia diprediksikan sebesar 1,50 juta unit. Sementara penjualan pada kuartal pertama 2016 sudah mencapai 351 ribu," ungkap Kukuh.
Di sisi lain, kalangan industri otomotif nasional juga menaruh harap besarnya pasar kendaraan di ASEAN tersebut menjadi stimulan bagi produsen komponen untuk membangun pabrik baru atau menambah kapasitas.
Dalam pandangan Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor Amelia Tjandra, pembangunan pabrik baru maupun penambahan kapasitas produksi komponen juga dapat menghambat arus masuknya produk imitasi dari Tiongkok yang harganya 40%-60% di bawah harga komponen lokal.
"Industri Indonesia sanggup memproduksi komponen murah, berkualitas dan memiliki garansi resmi. Komponen kami sudah sama seperti suku cadang asli dengan harga kompetitif atau hanya sekitar 70%. Itu terobosan di tengah sulitnya penjualan komponen akibat serbuan barang imitasi yang jauh lebih murah," tutur Amelia.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian pun memprediksi berlakunya kebijakan pasar bersama ASEAN sejak awal tahun ini membuka peluang bagi industri komponen Indonesia untuk berkembang. Hal ini dapat dilihat dari beberapa faktor di antaranya semakin maraknya industri perakitan, meningkatnya kebutuhan komponen untuk layanan purna jual dan besarnya pangsa pasar otomotif di dalam negeri maupun di ASEAN.
Tahun lalu, ekspor komponen Thailand melampaui US$4 miliar dan Filipina sekitar US$1 miliar. Adapun nilai ekspor komponen Indonesia, Malaysia dan Vietnam masih lebih kecil ketimbang impor.
Kementerian Perdagangan mendorong ekspor produk komponen menembus pasar Asia untuk memperkuat surplus ekspor nonmigas khususnya produk-produk otomotif.
"Ini peluang besar. Industri komponen harus membuat produk yang berdaya saing dengan kualitas bagus. Dengan demikian, citra positif produk dalam negeri juga meningkat," tandas Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Nus Nuzulia Ishak, beberapa waktu lalu. (Ant/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved