BADAN Pusat Statistik mencatat level terendah rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar AS di 34 provinsi di level 13.177 per akhir Mei. Level itu terdepresiasi 2,06% dari bulan sebelumnya.
"Mata uang kita (rupiah) mengalami depresiasi paling besar terhadap dolar. Merata ya, hampir seluruh provinsi terjadi depresiasi rupiah," ucap Kepala BPS Suryamin di Gedung BPS, Jakarta, kemarin.
Indikasi lemahnya kurs rupiah turut dipengaruhi masih maraknya transaksi valuta asing (valas) di dalam negeri. Dalam mengatasi persoalan itu, Bank Indonesia merilis kewajiban penggunaan rupiah dalam transaksi domestik secara tunai dan nontunai yang berlaku mulai 1 Juni 2015. Bagi yang melanggar, ada sanksi pidana kurungan maksimum 1 tahun dan denda hingga Rp100 juta.
Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Sasmito Hadi Wibowo menilai beleid itu dapat memperkuat rupiah. Apalagi berdasarkan pengamatan petugas di lapangan, masyarakat cenderung tak acuh menggunakan valas lantaran tidak ada aturan yang memberatkan. "Perlahan rupiah pasti menguat. Terlebih ini ada dorongan dari dalam negeri untuk kewajiban penggunaan mata uang rupiah dalam setiap transaksi," kata Sasmito kepada Media Indonesia di lokasi sama.
Di kawasan wisata, dia tidak sangsi pengawasan bisa dilakukan optimal. Namun, ia mewanti-wanti wilayah perbatasan yang acap minim kontrol oleh petugas, serta kedekatan lokasi negara tetangga yang rentan dengan penggunaan mata uang asing.
Tidak hanya itu, arus keluar masuk barang di kawasan perbatasan pun marak diwarnai perdagangan ilegal. Ia mencontohkan level terendah kurs tengah rupiah terhadap dolar AS di Provinsi Papua yang menyentuh 13.237,67. "Kontrol di daerah perbatasan harus kuat. Percuma juga kalau ada kewajiban tapi pengawasannya minim, pasti dampaknya tidak akan optimal untuk mendongkrak nilai tukar rupiah.
" Kemarin petang, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta menguat tipis tujuh poin menjadi Rp13.328 ketimbang posisi sebelumnya di Rp13.335 per dolar AS. "Rupiah bergerak datar dengan kecenderungan menguat menyusul data neraca perdagangan Indonesia periode Mei 2015 yang mencatatkan surplus," ujar pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova. (Tes/Ant/E-20