DUA anak usaha PT Rajawali Nusantara Indonesia (persero), PT Rajawali Nusindo dan PT Phapros, berencana melaksanakan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) pada 2018 dan tahun depan.
"Sebetulnya kita duluan-duluan saja," kata Direktur Utama Rajawali Nursindo Tony Visiyanto di Gedung RNI, Jakarta, kemarin.
Menurutnya, saat ini sedang dilakukan kajian akan rencana pelaksanaan penawaran umum saham perdana untuk anak perusahaan RNI yang bergerak di bidang distribusi dan perdagangan farmasi tersebut. Proses itu akan dilaksanakan hingga akhir 2015.
"Kita diminta untuk melakukan appraisal (penilaian) untuk nilai di masa mendatang," ungkapnya.
Bila hasilnya memuaskan, rencana penggabungan Rajawali Nursindo dengan Phapros batal. "Bisa jalan sendiri-sendiri," papar Tony.
Ia menambahkan Rajawali Nursindo sedang mengevaluasi manajemen perusahaan yang bertujuan menjadi institusi terbaik.
Caranya, melakukan inovasi sistem manajemen dengan implementasi standard ISO 9001:2008 quality managementsystem (sistem manajemen mutu) hingga kemudian berhasil meraih Sertifikat ISO 9001:2008 untuk seluruh departemen di kantor pusat.
Tony mengatakan Rajawali Nusindo menargetkan omzet sebesar Rp3 triliun pada 2015, naik 13,2% jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya Rp2,65 triliun. IPO Phapros PT Phapros juga akan menawarkan saham ke publik (IPO) dan melakukan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun depan. Rencana tersebut mundur dari jadwal yang diagendakan pada semester I tahun ini. Pasalnya, penggabungan (merger) perseroan dengan Rajawali Nusindo belum terlaksana.
Direktur Utama Phapros Iswanto mengungkapkan pihaknya telah mengantongi izin dari Kementerian BUMN untuk merger dengan Rajawali Nusindo. Lalu internal induk usaha, Rajawali Nusantara Indonesia, juga melakukan valuasi. Akan tetapi, penggabungan Phapros dengan Rajawali Nusindo belum terlaksana.
Selain itu, kondisi pasar yang fluktuatif sebagai faktor eksternal juga menjadi pertimbangan mundurnya pelaksanaan penawaran umum saham perdana Phapros di tahun ini. "Pasar modal lagi enggak bergairah, saya takut momennya enggak pas, timing sangat penting saat mau IPO," katanya.
Phapros akan melepas saham sekitar 20% ke publik melalui mekanisme IPO dan akan mendapatkan pendanaan sekitar Rp500 miliar dari pelaksanaan IPO tersebut.
Namun, mundurnya pelaksanaan IPO tahun ini diantisipasi dengan rencana penerbitan medium term note (surat utang jangka menengah) sebesar Rp200 miliar pada Oktober 2015. Pasalnya, Phapros tetap harus melaksanakan pembangunan pabrik baru seluas 3 ha senilai Rp350 miliar di Bawen, Jawa Tengah.
Iswanto menuturkan pabrik baru itu memiliki kapasitas produksi sebanyak empat miliar tablet per tahun. Dengan penambahan itu, Phapros dapat memproduksi enam miliar tablet setiap tahunnya. "Saat ini kapasitas produksi sekitar 2 miliar tablet. Kapasitas sekarang sudah full. (E-3)