SIAPA bilang upah berbanding lurus dengan kebahagiaan? Jika memang demikian, mestinya para pekerja di Jakarta dan Bekasi sebagai wilayah dengan upah minimum regional tertinggi di Indonesia ialah pekerja paling bahagia.
Tahun ini upah minimum kota dan kabupaten (UMK) Bekasi masing-masing Rp2,95 juta dan Rp2,84 juta, sedangkan upah minimum provinsi (UMP) DKI mencapai Rp2,7 juta. Jumlah tersebut lebih dari dua kali lipat UMK Surakarta yang hanya Rp1,22 juta. Bahkan di Sragen, UMK hanya Rp1,105 juta.
Meski demikian, rupanya buruh di Jawa Tengah lebih bahagia ketimbang kerabat mereka yang memilih mengadu nasib di Jakarta dan sekitarnya. Anggapan tersebut dikemukakan Deputi Bidang Pengendalian Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Azhar Lubis di sela konferensi pers di Jakarta, kemarin (Senin, 15/6/2015).
''Ada yang menarik, banyak industri padat karya di Jawa Tengah. Karena memang sumber tenaga kerja banyaknya dari Jawa Tengah, dan buruh di Jawa Tengah itu lebih bahagia, jarang demo,'' ujar Azhar.
Berdasarkan hasil kunjungan kerja BKPM ke sejumlah industri di Jawa Tengah, pengusaha di sana mengaku pekerja mereka lebih bahagia ketimbang buruh di kawasan lain. Banyak faktor kebahagiaan para pekerja, dua di antaranya biaya yang hemat dan keluarga yang dekat.
''Banyak yang didapat, sore mereka selesai kerja pulang bertemu keluarganya,'' tambah Azhar.
Jawa Tengah merupakan satu dari empat provinsi yang tidak menetapkan UMP. Rata-rata kabupaten/kota di sana mematok upah pekerja di kisaran Rp1,1 juta hingga Rp1,7 juta, atau naik 14,96% ketimbang 2014.
Meski pekerjanya lebih bahagia, lapangan pekerjaan di Jawa Tengah kurang memadai. Banyak angkatan kerja di Jawa Tengah bermigrasi ke kota-kota besar, termasuk Jakarta dan Bekasi, untuk mengadu nasib.
Namun, belakangan ini, menurut Azhar, investor mulai melirik Jawa Tengah sebagai lokasi ideal untuk membuka industri padat karya karena upah minimumnya tergolong rendah. Bila investasi-investasi tersebut terealisasi, angkatan kerja di Jawa Tengah tidak perlu merantau lagi.
''Kalau mereka di sini (Jakarta), kan perlu sewa indekos, sewa rumah, belum biaya transportasinya. Kalau di sana, bisa dihemat,'' tambah Azhar.
Potensial Industri padat karya di Jawa Tengah sesungguhnya cukup mampu meraup keuntungan. Contohnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex) yang per tahunnya bisa memproduksi bahan industri garmen senilai US$40 juta-US$55 juta (sekitar Rp700 miliar). Sekitar 60% produknya diekspor. Sritex saat ini memperluas produksi dengan rencana investasi Rp5,2 triliun.
Perusahaan lain yang juga mencoba peruntungan di Jawa Tengah ialah Kukdong Group. Kelompok usaha yang juga bergerak di industri tektil dan produk tekstil tersebut berencana membuka pabrik di kawasan Batang melalui anak perusahaannya, PT Kukdong Apparel Batang.
''Ada kesempatan kerja 4.000 di daerah Batang dengan adanya pabrik itu. Selain itu, diperkirakan akan terjadi peningkatan ekspor US$60 juta-US$70 juta per tahun,'' terang Kepala BKPM Franky Sibarani dalam kesempatan sama. Sayangnya, realisasi pabrik garmen itu masih tersandung oleh sengketa lahan. (E-1)