DUA bulan lagi Indonesia akan memperingati ulang tahun kemerdekaan yang ke-70. Suatu masa yang cukup panjang untuk diisi dengan pembangunan yang menyejahterakan rakyat. Namun, pembangunan itu belum cukup pesat karena masih banyak anggota masyarakat yang belum mendapatkan akses tenaga listrik. Dari data pemerintah, ada sekitar 50 juta rakyat Indonesia yang hidup dalam kegelapan.
Hal serupa terjadi di bidang penyediaan bahan bakar minyak (BBM) yang merupakan bahan bakar utama transportasi. Disparitas produksi minyak nasional dan kebutuhan nasional mencapai sekitar 700 ribu barel per hari (bph). Gap itu cenderung terus melebar. Fenomena tersebut menunjukkan ketersediaan energi di dalam negeri yang masih minim untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Direktur Utama PT Bank Mandiri (persero) Tbk Budi Gunadi Sadikin menilai itu sudah semestinya mendapatkan perhatian dari pemerintah. Budi mengingatkan, Indonesia memiliki banyak sumber energi, misalnya, tenaga air, kelapa sawit, dan batu bara. Itu semua merupakan sebagian sumber energi terbarukan yang menjadi kekayaan Tanah Air.
Ia menyarankan, pemerintah seharusnya memanfaatkan sumber energi yang sudah terbukti besar jumlahnya. "Yang penting ketersediaan dulu. Mulai batu bara, tapi juga menyiapkan untuk pindah ke hidro secara bertahap," kata Budi dalam International Student Energy Summit di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/6). Alumnus Teknik Nuklir Institut Teknologi Bandung (ITB) itu menuturkan energi baru dan terbarukan di Indonesia masih membutuhkan waktu yang lama dalam pengembangannya.
Ia menaksir, energi terbarukan baru akan berkembang 15 tahun hingga 25 tahun ke depan. Kendati demikian, lanjut Budi, energi terbarukan harus dijadikan sumber energi masa depan dengan pengembangan yang dimulai saat ini. Jangan sampai jauh tertinggal dari negara-negara maju yang sudah menerapkan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan tersebut.
Acara ISES yang dihadiri para pemangku kepentingan dan mahasiswa di sektor energi dari berbagai negara, menurut Budi, bisa menjadi ajang memperkenalkan keunggulan energi terbarukan kepada Indonesia. "Sosialisasi energi terbarukan harus selalu dilakukan. Mau tidak mau, kita harus bergeser ke sana. Baguslah anak muda melakukan seminar seperti ini. Mudah-mudahan dilanjutkan," tuturnya.
Dukungan bank Bank Mandiri, ucap Budi, juga tidak berpangku tangan. Bank milik pemerintah itu telah menyalurkan kredit untuk membantu mengembangkan sektor energi. Kredit outstanding dari perseroan mencapai Rp20 triliun. Untuk tahun ini, pertumbuhan kredit di semua sektor, termasuk sektor energi, mencapai 15%-17%. "Nasabah paling besar yang melakukan peminjaman terbesar adalah di sektor energi, yaitu Pertamina. Jadi sektor ini juga besar untuk memberikan kontribusi ke perbankan," tuturnya.
Lebih lanjut, Budi mengatakan, penyaluran kredit untuk sektor energi di Bank Mandiri belum ada pembedaan. Energi terbarukan dinilainya masih tergolong baru sehingga masih sedikit investor yang mengembangkan. "Karena belum banyak yang tahu, otomatis investasinya jauh lebih mahal. Lalu, karena belum banyak yang tahu sukses menjalankannya dan mahal, banknya juga lebih ke preferensi yang lebih sudah terbukti berjalan," ungkapnya.
Senior Vice President Corporate Secretary Group PT Bank Mandiri (persero) Tbk Rohan Hafas menyatakan pihaknya telah mengalokasikan pinjaman dana untuk sektor energi sebesar 15% dari modal perseroan, yakni sekitar Rp100 triliun pada tahun lalu. Nilai itu diklaimnya sudah sesuai dengan batas maksimal pemberian kredit 20% atau sekitar Rp20 triliun.
Ia pun menyoroti pembiayaan megaproyek pembangkit listrik 35 ribu megawatt (mw) tidak mungkin dibiayai dari perbankan nasional saja. Dia mengatakan, pembiayaan proyek itu bisa diperoleh dengan meminjam kepada bank asing dan meminta penanaman modal negara (PMN) dari pemerintah ke sektor energi atau perbankan itu sendiri. Namun, dia menegaskan, Bank Mandiri terbuka dengan proposal pendanaan proyek energi, termasuk di antaranya proyek energi terbarukan, meski risikonya lebih besar ketimbang energi fosil.
"Kami tidak lihat semata-mata hanya risiko, tapi juga tingkat keekonomiannya. Untung rugi masuk tidak," imbuhnya. Fokus ke energi Pada acara yang sama, Managing Director and Chief Operating Officer World Bank Sri Mulyani menyatakan Bank Dunia siap memberikan pinjaman di bidang energi terbarukan kepada negara berkembang. Ia melihat aliran modal untuk energi terbarukan tiga kali lebih besar ketimbang program energi fosil.
"Tahun lalu, dua pertiga pinjaman kami ditujukan kepada negara-negara Asia Selatan dan Sub-Sahara Afrika," ujar Sri. Sri menjelaskan 90% pinjaman Bank Dunia saat ini sedang berfokus pada sektor energi 'bersih' itu, di antaranya pembangunan pembangkit berbasis gas alam, tenaga air, matahari, angin, dan panas bumi. "Kami tidak memberikan pinjaman untuk pembangkit listrik tenaga batu bara, kecuali bila kondisi tidak memungkinkan opsi yang lain," imbuhnya.