PEKERJAAN bukan hanya sebagai sumber pendapatan. Dari sisi psikologi, pekerjaan bisa menjadi modal kepercayaan diri. Apalagi bagi pria yang telah menikah dan notabene menjadi pemimpin keluarga. Maskulinitas mereka seakan sirna apabila pekerjaan tidak juga direngkuh.
Lantas apa yang terjadi ketika seorang kepala keluarga tidak berpenghasilan, sedangkan sang istri memiliki pekerjaan? Waspadalah. Bukan bermaksud menakut-nakuti, Christin Munsch, profesor dari University of Connecticut, dalam kajiannya yang terbit bulan ini melalui American Sociological Review, menemukan suatu fakta.
Diketahui, setidaknya 15% dari pria yang telah menikah dan memiliki problematika finansial memiliki kecenderungan untuk mendua. Adapun perempuan dengan situasi serupa memiliki kecenderungan lebih rendah untuk berselingkuh, hanya sekitar 5%.
Konklusi itu didapat Christin setelah melakukan survei terhadap 2.750 responden pasangan suami-istri di Amerika Serikat yang berada pada rentang usia 18 sampai 32 tahun.
Periode usia pernikahan itu dinilai belum begitu matang. Christin mengaku cukup sulit untuk menyingkap fenomena tersebut lantaran menyangkut ranah pribadi yang sensitif.
''Mereka, khususnya lelaki yang sudah menikah dan parahnya tidak berpenghasilan, lebih rentan stres. Ini sebenarnya tidak mengejutkan. Anda lelaki dan tidak punya pekerjaan, terang saja Anda kehilangan sisi maskulinitas. Karena bagi seorang pria, peran utamanya adalah mencari nafkah,'' ucap Christin sebagaimana dikutip dalam The Wall Street Journal, Selasa (9/6).
Christin juga mengungkap adanya sikap yang bertolak belakang antara pria dan perempuan yang mengetahui pasangan mereka tidak lagi setia.
Dari pengakuan sejumlah responden, istri yang dikhianati berupaya melindungi aib yang ditimbulkan suaminya dan mencoba mempertahankan bahtera rumah tangganya.
Namun, bagi pria berpenghasilan yang mendapati istri mereka berselingkuh, momentum itu dijadikan alasan untuk berbuat penyimpangan yang lebih parah.
''Fenomena ini menjadi penting untuk dikaji karena perempuan Amerika Serikat mulai memainkan peranan utama sebagai pencari nafkah,'' paparnya.
Berdasarkan cacatan yang dihimpun Economist, mayoritas negara maju kurang tertarik mempekerjakan pria dengan pendidikan sekolah menengah ke atas, ketimbang perempuan dengan latar belakang pendidikan yang sama.
Terhitung sejak 1979 hingga 2013, penurunan bagi pekerja pria sebesar 21%, sedangkan angkatan pekerja perempuan di tatanan tersebut meningkat 3%.
Meski isu kesetaraan gender terus menyeruak, apalagi di negara maju, seharusnya ini menjadi alarm bagi para pria untuk memacu diri, bukan sekadar menjadi parasit yang menanti pundi-pundi yang dihasilkan sang oleh istri.(E/1)