SEIRING dengan pergantian jajaran pemimpin Perum Bulog, pemerintah tengah merampungkan peraturan presiden (perpres) untuk memperkuat peran Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) sebagai penyangga harga komoditas pangan utama. Dengan adanya perpres tersebut, Bulog yang kini dipimpin mantan Direktur Usaha Mikro, Kecil, Menengah PT Bank BRI Tbk, Djarot Kusumayakti, akan memiliki kewenangan mengatur stok dan harga komoditas pangan utama.
"Perpresnya sedang disiapkan untuk penguatan Perum Bulog sebagai penyangga harga sehingga diharapkan tidak hanya fokus untuk beras, tapi juga komoditas-komoditas pokok lainnya," ungkap Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto di Istana Negara, kemarin. Ia menjelaskan dalam perpres yang sedang disiapkan itu fungsi Bulog bakal ditekankan sebagai lembaga penyangga harga nasional pangan.
"Terminologi utamanya sebagai buffer," tutupnya. Seperti diberitakan sebelumnya, untuk mengamankan harga dan stok komoditas pangan, pemerintah juga tengah memfinalisasi perpres pengendalian harga komoditas pangan utama. Dalam perpres tersebut pemerintah nantinya menetapkan kategori harga 11 komoditas utama, seperti beras, gula, kedelai, minyak goreng, cabai, bawang merah, daging sapi, daging ayam, telur, tempe, dan ikan segar.
Dalam kebijakan harga, perpres itu juga akan mengatur kebijakan harga khusus yang akan diberlakukan saat menghadapi Ramadan, Lebaran, dan Natal, di samping menetapkan harga eceran tertinggi dan harga subsidi. Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso berharap dengan adanya restrukturisasi dan rencana menerbitkan perpres tersebut, Bulog harus optimal sebagai penyangga pangan.
Menurutnya, Bulog perlu mencermati situasi di lapangan, mengingat persoalan harga bahan pokok bergantung pada mekanisme pasar. "Bulog tidak boleh membiarkan pebisnis besar menguasai beras-beras petani agar jangan terjadi gurita kartel," kata Sutarto yang menjabat Dirut Perum Bulog pada 2009-2014. Untuk memperkuat peran Bulog sebagai penyangga, Sutarto mengusulkan agar Bulog mengembangkan pola kemitraan (on farm), seperti bantuan modal atau ikut memecahkan persoalan kredit bermasalah bagi petani. Dengan adanya kemitraan ini, petani akan menyalurkan hasil produksi ke Bulog.
"Bulog jangan ikut cara tengkulak. Hadapi tengkulak dengan cara elegan seperti pola kemitraan," ujarnya. Pertimbangkan impor Terkait dengan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah dan cabai, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel masih mempertimbangkan impor. Namun, keputusan impor dua komoditas itu berdasarkan pantauan hasil panen petani. "Kita harus jaga petani juga, jangan sampai impor saat panen," ujarnya di Istana Negara, kemarin.
Mengenai komoditas gula, pemerintah akan melakukan operasi pasar (OP) dan mengawasi peredaran gula rafi nasi (gula kristal putih/GKP). OP gula itu juga akan melibatkan Induk Koperasi TNI-AD untuk memastikan tepat sasaran bagi konsumen. Sementara itu, untuk menghadapi kemungkinan adanya aksi penimbunan dan spekulasi para pedagang, pemerintah akan memperketat pengawasan. "Saya mengingatkan kepada semua spekulan yang mencoba mempermainkan ke tersediaan kebutuhan pokok dalam Lebaran ini untuk segera menghentikan kegiatan mereka karena itu merugikan masyarakat banyak," tegas Kepala BIN Marciano Norman