DENGAN penuh kesabaran, Nurfitriah melayani tiap-tiap warga Kelurahan Kolo, Kecamatan Asakota, Kabupaten Bima, NTB, yang mengantre sejak pagi. Bidan di Puskesmas Desa Bonto, Kota Bima, itu berusaha memuaskan warga yang rindu akan layanan perbankan melalui pembukaan rekening Tabungan BNI Pandai.
Nurfitriah merupakan agen Bank Negara Indonesia (BNI) untuk Kelurahan Kolo. Ia memberikan layanan perbankan bertepatan dengan peluncuran produk Tabungan BNI Pandai di kelurahan itu, kemarin.
"Banyak warga desa butuh layanan perbankan, tapi terkendala oleh jauhnya lokasi kantor cabang. Saya telah mendapatkan 40 nasabah dengan setoran awal rata-rata Rp5.000-Rp10 ribu," ujar perempuan yang sudah dua pekan menjadi agen BNI di rumahnya, Kelurahan Kolo, NTB, kemarin.
Peluncuran produk Tabungan BNI Pandai dihadiri juga oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad, Direktur Utama BNI Achmad Baiquni, dan Wakil Wali Kota Bima Arrahman Abidin.
Peluncuran produk tabungan tersebut merupakan komitmen BNI terhadap program Laku Pandai, atau Layanan Keuangan tanpa Kantor dalam rangka Keuangan Inklu-sif, yang digagas OJK. Kelurahan Kolo dipilih sebagai lokasi peluncuran produk Tabungan BNI Pandai karena BNI ingin memulai program itu dari sebuah kawasan yang sangat membutuhkan keberpihakan dalam hal peningkatan literasi keuangan.
Selain itu, BNI memang berniat mengembangkan agen Laku Pandai di kawasan Indonesia Timur. Setelah Bima, daerah lain untuk Laku Pandai di Indonesia Timur ialah Mataram dan Kupang.
Produk Tabungan BNI Pandai memiliki keunggulan seperti bebas biaya administrasi dan transfer, dimiliki perorangan dalam mata uang rupiah, memperoleh bunga, maksimum saldo Rp20 juta, dan maksimum transaksi per bulan Rp5 juta untuk baik tarik maupun transfer.
Untuk memperlancar para agen dalam melayani nasabah, BNI menyiapkan komputer jinjing dan mesin EDC (electronic data capture) Mini ATM. Semua peranti tersebut digunakan agen untuk keperluan setor tunai, tarik tunai, cek saldo, pembelian pulsa, dan transfer antarrekening BNI.
"Nasabah nanti memiliki buku tabungan dan kartu debit untuk melengkapi kebutuhan transaksi. Keunggulan sistem yang dikembangkan BNI ialah adanya pilihan menggunakan web base dan EDC sebagai media transaksi bagi agen," Baiquni menjelaskan. Kredit mikro Setelah tabungan BNI Pandai, lanjut Baiquni, kelak pihaknya akan mengembangkan produk lain seperti kredit mikro dan asuransi mikro. Tahun ini BNI menargetkan memiliki agen sekitar 3.000 dengan potensi raihan 200 nasabah per agen.
Sementara itu, Muliaman berharap program Laku Pandai dapat membawa dampak, yakni masyarakat sadar akan pentingnya akses terhadap perbankan.
"Sampai kini sudah enam bank termasuk BNI yang mengikuti program Laku Pandai. Saya harap 11 bank lain yang sudah merencanakan ikut dalam program ini segera merealisasikannya untuk membuka akses keuangan ke masyarakat," ungkap Muliaman.
OJK menargetkan hingga akhir 2015 jumlah agen di seluruh Indonesia mencapai sekitar 300 ribu. OJK berharap hingga penghujung 2017 akan ada tambahan sekitar 9 juta rekening baru. (E-5)