PERGANTIAN Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Lenny Sugihat dengan Djarot Kusumayakti dilakukan sebagai awal pembenahan Bulog yang sebelumnya berorientasi keuntungan kembali menjadi penstabil harga pangan nonprofit. Kewe nangan Bulog pun bakal diperluas. Presiden Joko Widodo mengatakan pembenahan mutlak dilakukan karena Bulog akan menyandang tugas lebih banyak.
"Ke depan memang kita siapkan Bulog tidak hanya urusi urusan beras, tapi juga sembilan bahan pokok lainnya. Bulog nanti sebagai penyangga (buffer) pangan nasional tanpa dibebani cari keuntungan. Dalam rangka persiapan itu, dirutnya diganti," ucapnya di Jakarta, kemarin. Rencana restrukturisasi Bulog dicetuskan Jokowi dalam pidatonya pada rapat koordina si nasional tim pengendali inflasi daerah, dua pekan lalu. Menurut Presiden, penstabilan harga pangan lewat Bulog pen ting dalam menekan inflasi.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman juga menyatakan penyegaran di jajaran pemimpin Bulog perlu di lakukan karena wewe nang Bulog akan berubah. Fokus perubahannya pada fungsi stabilisasi harga pangan dan pembelian hasil panen langsung ke petani. Komoditas yang jadi kewenangan Bulog diperluas. Tak cuma beras, jagung dan kedelai pun akan dicakup. Anggaran untuk itu kini juga sedang dibahas.
"Sekarang ini kita ubah sistem nya. Jadi, yang dulu profit oriented menjadi stabilisator dan masuk ke petani," jelas Amran. Pergantian Dirut Perum Bulog mengejutkan karena pe jabat lama, Lenny Sugihat, baru menjabat enam bulan. Per gantian itu dilakukan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno melalui SK No S 87/MBU/06/2015 tertanggal 8 Juni 2015. Direktur Pelayanan Publik Bulog Lely Pelitasari Soebekty juga dicopot dan digantikan Wahyu Su paryono.
Sebagai dirut yang baru, Djarot yang sebelumnya menjabat Direktur Usaha Mikro Kecil Menengah PT Bank BRI Tbk berjanji akan lebih banyak berada di lapangan ketimbang di balik meja. Ia bakal menjadikan beras sebagai prioritas penanganan Bulog dengan menjamin stok dan melindungi harga di tingkat petani. Djarot berharap cadang an beras nasio nal di gudang Bulog naik 100% dari saat ini 1,5 juta ton. Deputi Bidang Usaha Industri Primer Kementerian BUMN Mu hamad Zamkhani mengatakan pihaknya meminta Bulog di bawah kepemimpinan Djarot menyerap beras petani 2 juta ton hingga Juli tahun ini.
"Saat ini baru sekitar 1,2 juta ton." Belum cukup Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyatakan pergantian pimpinan Bulog tak sertamerta berdampak. Pembenahan sebuah lembaga, tegasnya, butuh proses dan waktu. Pengamat ekonomi pertanian Khudori berpendapat jika pembenahan sebatas bongkar pasang pejabat, siapa pun yang memimpin Bulog tidak bisa memenuhi target. Pangkal persoalan yang harus diperbaiki ialah lemahnya kelembagaan Bulog.
Khudori mencontohkan dari sisi instrumen rendahnya harga pembelian pemerintah (HPP). "Serapan terus menurun. Karena apa? Instrumen yang mengiringi Bulog saja tidak kuat," urai dia. Ia menekankan peme rintah harus konsisten menata kelembagaan Bulog dan perlu memberikan garansi sebagai jaminan penyerapan.