Pedagang Minta Perbaikan Arus Logistik

Dero Iqbal Mahendra
07/6/2015 00:00
Pedagang Minta Perbaikan Arus Logistik
uasana perdagangan di Pasar Senen, Jakarta Pusat.(ANTARA/Vitalis Yogi Trisna)

ASOSIASI Pedagang Pasar Seluruh Indonesia mendorong pemerintah untuk segera memperbaiki jalur distribusi logistik. Pasalnya, perbaikan tersebut dapat memangkas kenaikan harga bahan pokok yang disumbangkan oleh biaya transportasi.

"Biaya transportasi memang mahal untuk bulan puasa atau menjelang puasa hingga 2 minggu setelah Lebaran. Berarti ini menambah biaya operasional dan tentunya memengaruhi harga pokok penjualan. Penambahan harga tersebut kadang-kadang kenaikannya tidak diduga layaknya 'hantu' pada harga bahan pokok," ujar Sekjen APPSI Ngadiran melalui telepon, kemarin.

Ia mengalkulasi besaran kenaikan harga yang disumbangkan biaya transportasi di atas 15%.

Pedagang pun langsung membebankan ongkos logistik itu kepada konsumen.

Tingginya beban logistik itu, lanjut Ngadiran, disebabkan oleh peningkatan kemacetan seiring naiknya jumlah pengguna jalan, penutupan sejumlah rute lalu lintas logistik, sehingga memperpanjang jarak tempuh dan kerusakan jalan.

Selain itu, terjadi peningkatan pungutan liar (pungli) jelang hari raya.

"Berbagai alasan pelanggaran terjadi di perjalanan, ada yang memang pura-pura disiplin, tetapi ujungnya nyari duit untuk uang Lebaran. Meski kecil-kecil, jumlahnya banyak macamnya sehingga membuat harga itu bergerak," keluh Ngadiran.

Saat dihubungi terpisah, Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Satria Hamid mengungkapkan hal serupa.

Tekanan kenaikan harga saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor permintaan dan penawaran, tetapi juga biaya logistik.

"Peritel terus berupaya memberikan harga yang terjangkau kepada konsumen. Terlebih, masyarakat saat ini mengalami penurunan daya beli," ungkap Satria.

Untuk mengurangi tekanan lonjakan harga, lanjut dia, peritel memotong rantai distribusi dengan langsung mengambil dari para petani atau pemasok.

Di samping itu, pedagang juga telah menjaga pasokan sejak 3-4 bulan sebelum Ramadan.

"Terus bekerja sama dengan para pemasok untuk menjamin ketersediaan barang, sebab kondisi kritisnya berada di H-7 dan juga H+5," ujar Satria.

Terus naik

Sementara itu, harga kebutuhan bahan pokok di sejumlah daerah terus bergerak naik.

Besaran kenaikan harga melampaui toleransi pemerintah sebesar 10%.

Pantauan harga bahan pokok di beberapa pasar tradisional di Kota Denpasar dan sekitarnya menunjukkan kenaikan harga hingga 50%.

Bawang merah yang sebelumnya hanya Rp32 ribu per kg, sekarang naik menjadi Rp70 ribu/kg.

Kemudian tomat yang sebelumnya hanya Rp3.000 per kg naik menjadi Rp6.000 per kg.

"Hampir semua barang kebutuhan pokok naik sampai 50% dari harga normal. Namun, yang paling terasa ialah bawang dan cabai merah," sebut Wayan Wardana, pedagang di Pasar Sanglah Denpasar, Bali.

Di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, harga sembako naik tajam sehingga pembeli mengeluh. Kenaikan harga kebutuhan pokok tertinggi terjadi pada ayam potong.

"Kenaikannya cukup tinggi. Kaget juga tadi pas membeli ayam ternyata naik menjadi Rp32 ribu per kg . Mudah-mudahan tidak naik lagi, karena biasanya makin dekat bulan puasa, harga barang makin naik," ujar Cici, pembeli di Pasar Keramat Sampit.

(OL/Ant/E-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya