Segera Atasi Harga Pangan

MI/Tesa Oktiana Surbakti
05/6/2015 00:00
Segera Atasi Harga Pangan
()
DUA pekan lagi memasuki masa puasa Ramadan. Seperti diperkirakan, harga sejumlah komoditas pangan pun telah merangkak naik, seperti harga bawang merah yang semakin tidak terkendali. Di Pasar Wonokromo Surabaya, jika pekan lalu harga bawang merah masih Rp15 ribu/kg, kini Rp32 ribu/kg. Bahkan, harga bawang merah kemasan di supermarket atau pasar modern dibanderol Rp120 ribu/kg. Pemerintah sendiri telah membahas masalah harga pangan dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Joko Widodo di Kantor Presiden, Rabu (3/6).

Namun, sumber Media Indonesia di lingkungan istana mengungkapkan rapat tersebut tidak membahas peraturan presiden tentang pengendalian harga komoditas utama yang telah disiapkan kementerian terkait. "Tidak membahas perpres, tapi Presiden sudah menginstruksikan tujuh langkah untuk mengantisipasi gejolak harga," ungkapnya, kemarin.
Ketika dikonfirmasi, Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengaku, meski tidak membahas perpres, pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah untuk mengendalikan harga sesuai instruksi presiden (lihat grafik).

"Termasuk rencana impor jika diperlukan. Saya sudah berkoordinasi dengan menteri pertanian untuk mengizinkan impor bawang merah karena stok terbatas dan petani bawang belum panen," ujarnya kepada Media Indonesia, kemarin. Demi menjaga agar stok dan harga pangan terkendali, aparat kepolisian siap turut mengamankan. Namun, Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti berharap pemerintah tidak memberikan pernyataan yang bisa dimanfaatkan oleh para spekulan.

"Pemerintah jangan sampai salah kasih pernyataan. Apalagi, ketika pemerintah tetapkan harga pokok penjualan, sangat mungkin ada spekulan," katanya. Berbagai kalangan masyarakat pun mendesak pemerintah untuk meredam gejolak harga pangan jika masih ingin menjaga inflasi nasional sesuai target. Perpres pengendalian harga komoditas dinilai sebagai instrumen tepat untuk menjaga harga pangan.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pemberdayaan Daerah Natsir Mansur mengaku tidak habis pikir perpres yang sudah disiapkan sejak awal tahun hingga kini tidak jelas nasibnya. "Harusnya cepatlah itu dikeluarin. Kan bisa membendung kenaikan," cetusnya, kemarin. Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia, I Kadek Dian Sutrisna, memperkirakan tarik ulurnya pembahasan perpres tersebut lantaran masih membutuhkan koordinasi antarinstansi terkait.

"Berkaitan dengan harga pangan butuh koordinasi yang lebih baik tidak hanya antara pemerintah pusat dan daerah tapi dengan Bank Indonesia yang memiliki tugas utama menjaga stabilitas harga," ujarnya.

Rupiah melemah
Naiknya harga komoditas pangan juga diikuti melemahnya rupiah. Kemarin, kurs rupiah berada di level 13.309/US$ dari sehari sebelumnya 13.262/US$. Ekonom dari Bank Permata Joshua Pardede menilai lemahnya posisi rupiah saat ini yang sama dengan kurs saat krisis moneter 1998 karena investor asing juga menimang adanya inflasi yang lebih mendekati masa puasa dan Lebaran di Juni dan Juli.

Belum lagi Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan dalam kondisi demikian. "Namun, saat ini pasar tidak terlalu panik karena masih melihat kondisi sesuai fundamental ekonomi dan sasaran yang ditetapkan," ujarnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya