KONON, jalur pelayaran pendek (short sea shipping/SSS) semakin diminati para pengguna angkutan darat.
Paling tidak, begitu penilaian Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kementerian Perhubungan Harri Budianto. Pernyataannya merujuk situasi operasional Kapal roll on/roll off (roro) yang melayani jalur Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya-Pelabuhan Bakauheni, Lampung.
"Awalnya peminat memang sepi. Sedikit demi sedikit truk bermuatan berat mulai coba SSS. Mereka yang tadinya takut, takut biaya angkutan kapal lebih besar, lalu mengoreksi anggapan tersebut," tutur Harri kepada pewarta di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Dari kalkulasi waktu, lanjutnya, melalui laut lebih cepat ketimbang jalur darat. Bila menggunakan kapal roro, jarak ditempuh kurang dari 40 jam, sudah termasuk estimasi antrean di pintu pelabuhan. Sementara itu, waktu via jalur darat bisa mencapai empat hari.
Harri berpendapat migrasi moda itu tidak terlepas dari kian banyaknya kendala yang ditemui pengguna jalur darat. Umpama, biaya bahan bakar yang makin mahal serta adanya hambatan yang menyetop pergerakan truk pengangkut.
Dalam menghadapi pertambahan minat pengguna jasa kapal roro, pemerintah dikatakan Harri bakal mengatur ketentuan truk yang bisa diangkut dengan menyediakan jembatan timbang.
"Kita mau atur berat truk pengangkut beserta muatannya. Ya, untuk menekan risiko yang tidak diinginkan juga. Jadi, perlu kita atur beratnya," imbuhnya.
Seiring dengan menguatnya animo pemakai jasa angkutan via laut, investor dari Jepang turut tertarik untuk menyediakan kapal angkut sejenis kapal roro.
"Tawaran dari Jepang berupa kapal bekas. Di sana karena perekonomiannya lambat, aktivitas distribusi berkurang, banyak kapal yang menganggur," ujar Harri.
Kapal-kapal asal Jepang tersebut, jelas dia, akan digunakan untuk mengakomodasi konektivitas dari wilayah pusat ke beberapa pulau, seperti Kalimantan. "Bagusnya sifat kapal roro itu bisa door to door. Jadi, misalnya dari Jawa ke Kalimantan Barat. Nah kapalnya tidak berhenti di situ, bisa keliling ke wilayah Kalimantan lainnya. Alur distribusi barang jadi lancar, kan," jelasnya.
Pengaturan Saat ditemui di lokasi yang sama, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur mengatakan sudah saatnya memajukan era jalur pelayaran pendek untuk mengefisienkan konektivitas antarpulau hingga ke pulau-pulau terkecil. "Indonesia hampir 30 tahun menggunakan transportasi di darat saja. Padahal, infrastruktur darat kita lemah, seperti banyak jalan rusak," ucap Natsir.
Kendati awalnya pemerintah menginisasi short sea shipping untuk mengurai kepadatan lalu lintas di jalur pantura, menurutnya, upaya itu harus digulirkan ke wilayah-wilayah lain.
Agar pengoperasian jalur pelayaran pendek berjalan optimal, dia juga menyarankan pemerintah merumuskan aturan detail.
Di antaranya mencakup jenis angkutan apa yang boleh masuk kapal roro, kemudian berapa besar kapasitasnya, berikut alur pelayaran yang konsisten. "Harus dibuat regulasinya, ya. Keteraturan tidak di pusat saja, tapi juga berlaku di seluruh wilayah yang terkoneksi short sea shipping," pungkas Natsir.
Dalam menjawab itu, Harri mengatakan di masa depan, jalur SSS tentu akan terus meluas ke berbagai wilayah, tidak terkecuali di kawasan perintis. Misalnya dari Jakarta ke Nias, atau dari Jakarta ke Belitung. "Tentu kita akan tambah jalur pelayaran pendek lainnya agar terjadi pemerataan." kata Harri. (E-2)