Generator Perekonomian Indonesia Timur

25/5/2015 00:00
Generator Perekonomian Indonesia Timur
(MI/RAMDANI)
SEMBARI menggerakkan sebuah tuas pengendali, Nur Henis tampak serius memandangi layar komputer.Di layar, terpampang sejumlah gambar 'jari-jari baja' automatic stacking crane (ASC) yang tengah mencoba mencengkeram sebuah peti kemas. Dengan cekatan, perempuan 21 tahun itu kemudian menempatkan 'pencengkeram' baja itu pada posisi ideal.

Tak butuh waktu lama bagi Nur--sapaan Nur Henis--untuk 'menguasai' peti kemas itu. Kurang dari satu menit, jari-jari baja yang digerakkannya telah mencengkeram peti kemas tersebut. Secara otomatis, ASC pun bergerak membawa peti kemas ke arah dermaga.

Sebagai salah satu operator mesin ASC, begitulah keseharian Nur di dalam control room salah satu sudut di Terminal Teluk Lamong (TTL), Surabaya, Jawa Timur, Jumat (12/5) sore itu. Sehari, belasan hingga puluhan peti kemas ia bisa pindahkan dari truktruk ke dermaga.

"Tidak terlalu sulit kalau sudah terbiasa. Sebelumnya kan kita memang sudah diberikan pelatihan dulu selama beberapa bulan," terang Nur menjelaskan pekerjaannya sebagai operator.

Mesin ASC yang digerakkan Nur terletak tak jauh dari control room.Dari ruangan berdinding kaca itu, terlihat setidaknya 5 unit ASC dari 10 unit ASC yang dimiliki Pelindo III, bergerak hilir mudik. ASC merupakan alat pemindah kontainer paling mutakhir yang dimiliki TTL.

Selain ASC, untuk memudahkan proses bongkar muat, TTL juga dilengkapi ship to shore crane (STS), combined terminal trailer (CTT), dan straddle carriers (SC). Mengusung konsep ramah lingkungan, kebanyakan alat bongkar muat menggunakan tenaga listrik, terkecuali CTT dan SC yang masih menggunakan mesin diesel dengan standar emisi EURO 4.

"Kenapa harus dibangun? Kalau enggak dibangun, Tanjung Perak akan penuh atau over capacity," ujar Direktur Teknik dan Teknologi Informasi Pelindo III Husein Latief, induk perusahaan TTL.

Menurut Husein, dalam konsep Greater Surabaya Metropolitan Port (GSMP) yang diusung Pelindo III, nantinya Teluk Lamong akan berdiri sejajar dengan Tanjung Perak sebagai hub (bagian dari pusat) peredaran barang dari dan ke kawasan Indonesia Timur. Sebagai terminal multifungsi, Teluk Lamong didesain untuk fokus melayani peti kemas domestik dan internasional serta curah kering.

"Konsepnya balance. Baik Teluk Lamong dan Tanjung Perak nanti akan berkompetisi. Namun, kompetisi hanya bisa dilakukan kualitas pelayanan, tarif dasar harus sama. Konsumen yang akan memilih sendiri mau ke mana," ujar dia.

Pembangunan TTL dimaksudkan menjadi solusi mengatasi kepadatan Pelabuhan Tanjung Perak.Menurut kajian Pelindo III, pada 2012, arus peti kemas di Tanjung Perak sudah mencapai 2,6 juta TEUs (twenty feet equivalent units).Padahal, kapasitas pelabuhan hanya sekitar 2,1 juta TEUs.

Dilengkapi dengan beragam fasilitas pelayanan bongkar muat canggih, TTL menjanjikan zero waiting time. Kapal-kapal pun tidak perlu antre untuk bisa bersandar ke pelabuhan.

"Zero waiting time ini penting karena biaya overhead kapal-kapal besar itu mahal. Bisa sampai US$20 ribu per hari. Ini bikin biaya logistik mahal.Itu nanti bisa dibebankan ke konsumen sebagai end user," jelas Husein.

Berlokasi di jalan perbatasan antara Surabaya dan Gresik, TTL mulai dibangun pada 2010. Dana sebesar Rp4,65 triliun dihabiskan untuk menyelesaikan pembangunan TTL dan revitalisasi APBS.

Husein mengatakan keberadaan TTL bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, baik bagi Jatim maupun kawasan Indonesia Timur. Keberadaan TTL terutama akan menopang pertumbuhan perekonomian Jatim pada sektor perdagangan.

"Terminal Teluk Lamong dan alurnya akan membuat transportasi barang dari Jatim ke luar negeri atau ke luar pulau atau sebaliknya menjadi lebih lancar. Kalau logistik lancar, akan terjadi gairah. Perdagangan dari dan ke Indonesia timur terutama akan lebih lancar.Perekonomian naik," jelasnya.

Menurut Direktur Operasional dan Teknik Terminal Teluk Lamong, Agung Kresno Sarwono, TTL mulai resmi beroperasi pada November 2014 lalu.Setiap bulannya, rata-rata 20-30 kapal bersandar.Karena kedalaman alur serta dermaganya sudah 13 meter, pelabuhan ini bisa melayani kapal dengan berat hingga 80 ribu deadweight tons (Dwt).

"Dengan kedalaman alur seperti ini, kapal-kapal direct calling, dari China atau Jepang misalnya, tidak perlu lagi transit di Singapura. Ini tentunya akan mempermurah biaya logistik karena waktu shipping bisa dipersingkat," jelas dia.

Dunia usaha pun menyambut baik beroperasinya TTL. Ketua Indonesia National Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartono mengatakan, beroperasinya TTL akan mengurangi beban logistik memperlancar suplai logistik dari Pulau Jawa ke kawasan timur Indonesia dan sebaliknya.

"Keberadaan Terminal Teluk Lamong meningkatkan konektivitas dan menurunkan biaya logistik.Kita berharap pelabuhan terbaik bukan hanya Teluk Lamong. Pelabuhan lainnya segera menyusul untuk dibenahi," kata dia. (Christian Dior/Abdus Syukur/S-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya