SEMBARI menggerakkan sebuah tuas pengendali, Nur Henis tampak serius
memandangi layar komputer.Di layar, terpampang sejumlah gambar
'jari-jari baja' automatic stacking crane (ASC) yang tengah
mencoba mencengkeram sebuah peti kemas. Dengan cekatan, perempuan 21
tahun itu kemudian menempatkan 'pencengkeram' baja itu pada posisi
ideal.
Tak butuh waktu lama bagi Nur--sapaan Nur Henis--untuk
'menguasai' peti kemas itu. Kurang dari satu menit, jari-jari baja yang
digerakkannya telah mencengkeram peti kemas tersebut. Secara otomatis,
ASC pun bergerak membawa peti kemas ke arah dermaga.
Sebagai salah satu operator mesin ASC, begitulah keseharian Nur di dalam control room salah
satu sudut di Terminal Teluk Lamong (TTL), Surabaya, Jawa Timur, Jumat
(12/5) sore itu. Sehari, belasan hingga puluhan peti kemas ia bisa
pindahkan dari truktruk ke dermaga.
"Tidak terlalu sulit kalau
sudah terbiasa. Sebelumnya kan kita memang sudah diberikan pelatihan
dulu selama beberapa bulan," terang Nur menjelaskan pekerjaannya sebagai
operator.
Mesin ASC yang digerakkan Nur terletak tak jauh dari control room.Dari
ruangan berdinding kaca itu, terlihat setidaknya 5 unit ASC dari 10
unit ASC yang dimiliki Pelindo III, bergerak hilir mudik. ASC merupakan
alat pemindah kontainer paling mutakhir yang dimiliki TTL.
Selain ASC, untuk memudahkan proses bongkar muat, TTL juga dilengkapi ship to shore crane (STS), combined terminal trailer (CTT), dan straddle carriers (SC).
Mengusung konsep ramah lingkungan, kebanyakan alat bongkar muat
menggunakan tenaga listrik, terkecuali CTT dan SC yang masih menggunakan
mesin diesel dengan standar emisi EURO 4.
"Kenapa harus dibangun? Kalau enggak dibangun, Tanjung Perak akan penuh atau over capacity," ujar Direktur Teknik dan Teknologi Informasi Pelindo III Husein Latief, induk perusahaan TTL.
Menurut
Husein, dalam konsep Greater Surabaya Metropolitan Port (GSMP) yang
diusung Pelindo III, nantinya Teluk Lamong akan berdiri sejajar dengan
Tanjung Perak sebagai hub (bagian dari pusat) peredaran barang dari dan
ke kawasan Indonesia Timur. Sebagai terminal multifungsi, Teluk Lamong
didesain untuk fokus melayani peti kemas domestik dan internasional
serta curah kering.
"Konsepnya balance. Baik Teluk
Lamong dan Tanjung Perak nanti akan berkompetisi. Namun, kompetisi hanya
bisa dilakukan kualitas pelayanan, tarif dasar harus sama. Konsumen
yang akan memilih sendiri mau ke mana," ujar dia.
Pembangunan TTL
dimaksudkan menjadi solusi mengatasi kepadatan Pelabuhan Tanjung
Perak.Menurut kajian Pelindo III, pada 2012, arus peti kemas di Tanjung
Perak sudah mencapai 2,6 juta TEUs (twenty feet equivalent units).Padahal, kapasitas pelabuhan hanya sekitar 2,1 juta TEUs.
Dilengkapi dengan beragam fasilitas pelayanan bongkar muat canggih, TTL menjanjikan zero waiting time. Kapal-kapal pun tidak perlu antre untuk bisa bersandar ke pelabuhan.
"Zero waiting time ini penting karena biaya overhead kapal-kapal
besar itu mahal. Bisa sampai US$20 ribu per hari. Ini bikin biaya
logistik mahal.Itu nanti bisa dibebankan ke konsumen sebagai end user," jelas Husein.
Berlokasi
di jalan perbatasan antara Surabaya dan Gresik, TTL mulai dibangun pada
2010. Dana sebesar Rp4,65 triliun dihabiskan untuk menyelesaikan
pembangunan TTL dan revitalisasi APBS.
Husein mengatakan
keberadaan TTL bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, baik bagi Jatim
maupun kawasan Indonesia Timur. Keberadaan TTL terutama akan menopang
pertumbuhan perekonomian Jatim pada sektor perdagangan.
"Terminal
Teluk Lamong dan alurnya akan membuat transportasi barang dari Jatim ke
luar negeri atau ke luar pulau atau sebaliknya menjadi lebih lancar.
Kalau logistik lancar, akan terjadi gairah. Perdagangan dari dan ke
Indonesia timur terutama akan lebih lancar.Perekonomian naik," jelasnya.
Menurut
Direktur Operasional dan Teknik Terminal Teluk Lamong, Agung Kresno
Sarwono, TTL mulai resmi beroperasi pada November 2014 lalu.Setiap
bulannya, rata-rata 20-30 kapal bersandar.Karena kedalaman alur serta
dermaganya sudah 13 meter, pelabuhan ini bisa melayani kapal dengan
berat hingga 80 ribu deadweight tons (Dwt).
"Dengan kedalaman alur seperti ini, kapal-kapal direct calling,
dari China atau Jepang misalnya, tidak perlu lagi transit di Singapura.
Ini tentunya akan mempermurah biaya logistik karena waktu shipping bisa dipersingkat," jelas dia.
Dunia
usaha pun menyambut baik beroperasinya TTL. Ketua Indonesia National
Shipowners Association (INSA) Carmelita Hartono mengatakan,
beroperasinya TTL akan mengurangi beban logistik memperlancar suplai
logistik dari Pulau Jawa ke kawasan timur Indonesia dan sebaliknya.
"Keberadaan
Terminal Teluk Lamong meningkatkan konektivitas dan menurunkan biaya
logistik.Kita berharap pelabuhan terbaik bukan hanya Teluk Lamong.
Pelabuhan lainnya segera menyusul untuk dibenahi," kata dia. (Christian
Dior/Abdus Syukur/S-3)