RI kian Seksi untuk Investasi

Gabriela Jessica Sihite
25/5/2015 00:00
RI kian Seksi untuk Investasi
(Sumber: BKPM/Grt/Foto: Thinkstock/Grafis: Caksono)

DI tengah pertumbuhan ekonomi yang melambat, dunia perekonomian Indonesia mendapat kabar menggembirakan. Standard and Poor's (S&P), lembaga pemeringkat utang internasional, mengubah outlook rating Indonesia dari stable (stabil) menjadi positive (positif) kendati dengan peringkat utang tetap di level BB+.

Perbaikan outlook tersebut kian mendekatkan Indonesia untuk memperoleh peningkatan rating lagi dalam 12 bulan ke depan menuju predikat investment grade. S&P merupakan satu-satunya lembaga pemeringkat yang belum menempatkan Indonesia pada posisi investment grade.

S&P menyatakan peningkatan prospek tersebut antara lain dipicu oleh perbaikan kebijakan ekonomi sehingga lebih efektif dan mudah diprediksi.

Rating S&P itu menunjukkan adanya peningkatan optimisme dunia internasional atas prospek kinerja ekonomi Indonesia. Perbaikan level tersebut sekaligus membuktikan bahwa Indonesia kian menarik untuk investasi.

"S&P akan mungkin menaikkan rating Indonesia dalam waktu satu tahun ke depan dengan syarat kita mampu menjaga konsistensi kebijakan, memenuhi janji-janji, termasuk untuk memenuhi kualitas belanja," tutur Menteri Keuangan Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, akhir pekan lalu.

Presiden Joko Widodo juga berkeyakinan investasi akan terus mengalir ke Indonesia. "Kabar baik dalam sehari dua hari bahwa dari Standard & Poor's kita sudah mendapatkan grade yang lebih baik. Kita harapkan dalam 12 bulan mencapai investment grade," ujar Jokowi saat memberikan sambutan pada acara peletakan batu pertama pembangunan Gedung Indonesia 1, kerja sama PT China Sonangol Media Investment (CSMI) dan Media Group, di Jakarta, Sabtu (23/5).

Jokowi berkeyakinan kerja sama CSMI-Media Group tersebut merupakan salah satu aliran investasi yang akan disusul dengan investasi lainnya. Itu sekaligus menandakan baiknya perekonomian Indonesia.

Genjot investasi

Pendapat senada dikemukakan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani. Pembangunan Gedung Indonesia 1, kata Franky, bisa semakin membuka peluang para investor, baik asing maupun dalam negeri, untuk melakukan pembangunan infrastruktur.

"Itu (pembangunan infrastruktur) salah satu bentuk yang diminati investor asing dan dalam negeri. Itu sekaligus salah satu tanda masih bergairahnya Indonesia di mata investor," ujar Franky lewat pesan singkat, kemarin.

Ia menyebutkan investasi kita kian meningkat. Data BKPM menunjukkan realisasi investasi pada triwulan I 2015 sudah mencapai Rp124,6 triliun, terdiri atas penanaman modal asing (PMA) Rp82,1 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp42,5 triliun.

Angka tersebut naik 16,9% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro sebelumnya mengatakan 60% investasi proyek infrastruktur, atau senilai US$240 miliar, akan diserahkan kepada BUMN, swasta nasional, dan swasta asing.

Ia menilai hanya sekitar US$48 miliar dari US$240 miliar itu yang bisa diakomodasi BUMN. Sisanya diserahkan kepada swasta nasional dan asing.

Pengamat ekonomi Josua Pardede menambahkan pembangunan infrastruktur seperti Gedung Indonesia 1 merupakan salah satu upaya pemerintah mengimplementasikan investasi melalui skema public private partnership.

Ia juga mengingatkan pemerintah untuk menggenjot pembangunan infrastruktur dasar, terutama di daerah. "Seperti pembangunan jalan, jalan tol, tol laut, dan pelabuhan. Itu akan signifikan menentukan rating kita bisa menjadi positif." (Ire/Fat/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya